Showing posts with label Maja pahit. Show all posts
Showing posts with label Maja pahit. Show all posts

Sejarah Karomah TGH MAHSUN masbagek | Cinta NW

PERJUANGAN TGH MAHSUN (MASBAGIK)
DALAM MENEGAKKAN AJARAN AGAMA ISLAM

1. Kepribadian TGH Mahsun
TGH Mahsun memiliki nama kecil Ahmad dilahirkan pada tahun 1907 Masehi tepatnya di Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Ahmad dilahirkan dari pasangan Haji Mukhtar dan Hajjah Raodah. Haji Mukhtar sendiri pernah kawin sampai 4 (empat) kali. Adapun istri-istri dan putra-putri Haji Mukhtar sebagai berikut :
a. Pernikahan dengan Inaq Tanah mempunyai anak Maenah
b. Pernikahannya dengan Hajjah Raodah mempunyai anak bernama Ahmad (TGH Mahsun)
c. Pernikahan dengan Inaq Husni mempunyai anak bernama Nikmah
d. Pernikahan dengan Inaq Anwar mempunyai anak antara lain Haji Akil Mukhtar, Kamaruddin, Nikmah, dan Huzaenah

Karakter dari orang tua Ahmad adalah sosok yang tekun, rajin, selalu memuliakan para ulama, orang-orang shaleh dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kelahiran putera (Ahmad) sangat menggembirakan hati dan beliau berharap kelak Ahmad akan tumbuh menjadi seorang yang dapat memberikan pengajian kepada masyarakat. Obsesi Haji Mukhtar untuk menjadikan Ahmad sebagai putra yang dapat mengembangkan ajaran Islam dan membangun kehidupan sosial ekonomi masyarakat, sangatlah beralasan karena situasi dan kondisi pada waktu itu, amat sangat membutuhkan figur kharismatik.
Sejak masih kecil, Ahmad telah memperlihatkan sifat-sifat kepemimpinan ; rajin, tekun, sabar, pemberani dan pemurah, maka tidaklah mengherankan ketika masih kecil Ahmad memiliki teman-teman yang banyak. Hidup dalam belaian kasih sayang orang tua dan ekonomi yang berkecukupan tidaklah menjadikannya sebagai seorang yang angkuh dan sombong. Bahkan dalam lingkungan keluarga Haji Mukhtar memberikan pendidikan dasar-dasar agama Islam. Dan sebagai wujud perhatiannya kepada para ulama, orang-orang shaleh beliau menyerahkan Ahmad kepada guru ngaji di kampong.

2. Pengembaraan TGH Mahsun dalam Menuntut Ilmu

Setelah menempuh pendidikan non formal yaitu belajar membaca Al Qur’an, ia memasuki lembaga pendidikan formal. Pada usia 8 tahun, Ahmad masuk pada Sekolah Rakyat. Guru-guru sangat senang dengan sifat dan sikap pribadi Ahmad. Waktunya dihabiskan untuk belajar. Berkat ketekunan, kedisiplinan dan kecerdasannya Ahmad menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat. Harapan untuk peningkatan perkembangan pendidikan Ahmad, orang tuanya kemudian melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Ibtidaiyah. Di Madrasah Ibtidaiyah, Ahmad sangat menyenangkan hati para gurunya (ustadz) karena sopan santun dan budi pekerti yang baik, serta rajin dalam mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan.

Motivasi Ahmad untuk terus mendapatkan pendidikan semakin meningkat, setelah menyelesaikan pendidikan di Ibtida’yah beliaupun kemudian berangkat untuk melanjutkan pendidikannya di Bengkel Lombok Barat. Beliau diajar oleh seorang tokoh dan ulama besar TGH Muhammad Shaleh Hambali yang sudah sangat terkenal pada masa itu. Ahmad belajar ilmu-ilmu Tauhid, Usul Fiqh, dan lain-lain. Dalam belajar di Bengkel beliau terus mengkaji masalah-masalah agama, jika tidak diketahui, beliaupun segera mempertanyakan tanpa harus malu, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian beliau mendapatkan pengakuan sebagai murid yang terbaik. Oleh karena itu, TGH Muhammad Shaleh Hambali pernah berpesan “cukuplah yang menjadi wakil saya di Lombok Timur TGH Mahsun (Ahmad), jika ada masalah bertanyalah padanya (TGH Mahsun)”.


Selain itu beliaupun (TGH Mahsun) banyak belajar pada Tuan Guru Badarul Islam Pancor. Untuk memperdalam ilmunya iapun berangkat ke Makkah Al Mukarromah pada tahun 1936 M dan kembali ke Tanah Air pada tahun 1940 M. Selama beliau di Mekah beliau terus berguru dan belajar pada ulama-ulama terkenal dan Imam Masjidil Haram. Selama 4 tahun di Makkah, banyak ilmu-ilmu agama yang diperoleh. Pengembaraannya di Makkah menjadi bekalnya untuk memberikan dakwah pengajian di masyarakat.

3. Kiprah dan Perkawinan TGH Mahsun
Sepulang dari Makkah ia memberikan pengajian dengan sistem Khalaqoh. Keberhasilannya dalam memberikan dakwah Islamiyah di Lombok, sangatlah mencengangkan karena dalam waktu singkat berbagai dakwah dilakukan di berbagai tempat di pulau Lombok, seperti Masbagik (kecamatan tempat lahirnya), Banok, Sukaria, Suela, Sembalun, dan Bayan (Lombok Barat). Untuk melaksanakan dakwahnya tidak jarang dilakukan dengan menunggang kuda seperti ke Sembalun. Keberhasilan ini ditunjang oleh strategi dan prinsip pendekatan yang dipergunakan dalam menyampaikan dakwah, antara lain
 (1) menyenangkan para jama’ah bukan kemudian menakut-nakuti dan tidak mempersulit
 (2) setelah selesai memberikan materi biasa dilanjutkan dengan materi tanya jawab sesuai dengan kebutuhan para jama’ah,
 (3) setiap jama’ah yang datang berkunjung ke rumahnya, selalu dterima dengan sikap dan etika ketimuran
 (4) tidak pernah menuntut imbalan dalam setiap dakwahnya sehingga tidak merepotkan para jama’ah,
 (5) memperhatikan pentahapan materi dakwah dan memperhatikan volume jama’ah yang menghadiri pengajian,
 (6) terbuka dan transparan, apabila tidak diketahui suatu hukum beliau tidak menyampaikannya atau dan meskipun ia mengetahui hukum yang ditanyakan oleh para jama’ah dengan rela dan rendah hati kemudian menyerahkannya kepada muridnya sebagai tanda penghargaan,
(7) memilih kata yang tepat dalam berdakwah, beliau sangat memperhatikan tingkat kejenuhan para jama’ah sehingga disela-sela pengajian ia memberikan humor yang agamais.
TGH Mahsun selama menjalankan dakwah Islamiyahnya didampingi oleh istri-istrinya tercinta. Beliau pernah menikah sampai 9 (sembilan) kali dan memiliki banyak keturunan. Adapun istri-istri dan putra-putri beliau dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Pernikahannya dengan Inaq Badri alias Kalsum, alias Hajjah Raodah mempunyai putra-putri antara lain :
 (1) TGH Marzuki Mahsun,
 (2) Abdul Hanan (Bapak Uhip),
(3) Zohrah (Inaq Qazuini),
 (4) Joharah (Inaq Iftihar),
(5) Muslihun (Inaq Nurul Azmi),
(6) Mulkiah,
(7) Faizah,
(8) Asnawi.
b. Pernikahannya dengan Inaq Syaraf (Inaq Eseq) mempunyai anak :
(1) Bapak Zaki,
(2) Haji Nasrin Mukhtar
c. Pernikahannya dengan Hajjah Selamah dari Dasan Ma’alan tidak memiliki keturunand. Pernikahannya dengan Inaq Muslihin mempunyai anak bernama Muslihin (almarhumah)
e. Pernikahannya dengan Hajjah Rahmah tidak memiliki keturunan
f. Pernikahannya dengan Inaq Ridwan (Kalsum) memiliki putra-putri antara lain : (1) Haji Ahmad Wildan Mahsun (almarhum),
(2) Ahmad Rifa’i (almarhum),
(3) Hamdiah,
 (4) Hajjah Faoziah
g. Pernikahannya dengan Hajjah Wardiah mempunyai putra-putri antara lain :
 (1) Ihsan (almarhum,
(2) Muhammad Lutfi,
 (3) Haji Wahibullah SIP,
 (4) Haji Miftahul Hadi, SH,
 (5) Muhimmah,
 (6) Ahmad Nizam
h. Pernikahannya dengan Hajjah Mahmudah mempunyai putra-putri antara lain : (1) Muzmah,
(2) Zulfaiyah,
(3) Nahdiyah,
 (4) Hauliyah
i. Pernikahannya dengan Hajjah Nur Asmah (Pontianak) mempunyai putra-putri antara lain :
(1) Hajjah Nurjannah,
(2) Hajjah Nurhasanah,
 (3) Muhammad Farhi,
(4) Solehah, S.Pd.,
(5) Dra Zakiah
, (6) Huliyah,
 (7) Narjus Safa’ah,
 (8) Daman Huri,
(9) Nurul Hawalis (almarhum)
4. Karya dan Peninggalan TGH Mahsun
Gerakan-gerakan TGH Mahsun dalam mengembangkan dan memberikan pelajaran Agama Islam bukan hanya kepada orang tua. Beliaupun bergabung dalam Organisasi Nahdlatul Ulama dan pada tahun 1936 Masehi mendirikan Lembaga Pendidikan Diniyah. Lembaga pendidikan tersebut didirikan bersama tokoh-tokoh seperti TGH Muhammad Zen (Bangket Kebon atau Kebun Lauq), TGH Hasbullah Polak Penyayang, TGH Achsit Muzahar Bila Sundung, TGH Abdul Hakim, TGH Muhammad. Perkembangan selanjutnya beliau mendirikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) yang kemudian dilebur menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB). Pada tahun 1968 keluar dari Organisasi Nahdlatul Ulama membentuk organisasi yang berdiri sendiri yang diberi nama Organisasi Rabhitah. Selanjutnya dalam organisasi tersebut membentuk wadah Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ummah (Yadinu). Yang kemudian Madrasah Ibtidaiyah Yadinu (sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah Yadinu di Masbagik Selatan). Alhamdulillah berkat jasa-jasanya, sampai saat ini berkembang lembaga-lembaga pendidikan dalam wadah Organisasi Yadinu dan Al Ijtihad.
TGH Mahsun tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan, beliaupun juga terjun menumpas para penjajah bangsa. TGH Mahsun adalah tokoh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Pasukan Banteng Hitam. Beliau memimpin Masbagik saat penyerangan Belanda di Kota Selong, bergabung dengan pasukan dari Lendang Nangka (H. Jumhur Hakim) dan Pasukan dari Pringgasela (TGH Muhammad). Pada saat penyerangan tersebut, gugurlah pahlawan-pahlawan yang sangat kita banggakan antara lain ; TGH Muhammad, Sayid Saleh (Pringgasela), TGH Faesal saudara dari TGH Zaenuddin Abdul Majid (Pancor).



Share:

Pola belajar Maulanasykh Zainuddin Abdul Majid yang sulit di Tiru Sahabat Sahabatnya Diriwayatkan oleh sahabatnya seorang seykh di Jawa| Cinta NW

click untuk perbesar
  Pendidikan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Perjalanan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam menuntut ilmu pengetahuan diawali dengan pendidikan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Beliau belajar mengaji membaca al-Quran dan berbagai ilmu agama lainnya kepada ayahandanya sendiri, Tuan Guru KH. Abdul Majid.

Pendidikan yang diberikan oleh ayahnya tersebut dimulai semenjak beliau berusia 5 tahun dan kemudian memasuki pendidikan formal semenjak berusia 9 tahun. Sekolah formal yang beliau mesuki adalah sekolah umum yang pada saat itu disebut dengan Sekolah Rakyat Negara (Sekolah Gubernemen) di Selong Lombok Timur. Di sekolah tersebut beliau belajar selama 4 tahun hingga tahun 1919 M.

Setelah menamatkan pendidikan formalnya pada Sekolah Rakyat Negara pada tahun 1919 M, ia kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk belajar ilmu pengetahuan agama yang lebih luas lagi pada beberapa kyai lokal saat itu, antara lain Tuan Guru KH. Syarafuddin dan Tuan Guru KH. Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru KH. Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur. Dari beberapa kyai ini, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin selain mempelajari ilmu-ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Arab Melayu, juga secara khusus mempelajari ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab, seperti ilmu nahwu dan sharaf.

Pola pengajaran yang dilakukan oleh kyai-kyai lokal ini masih bersifat klasik, yaitu masih menggunakan sistem halaqoh, yang dalam pembelajarannya murid-murid duduk bersila dan sang guru memberi pengajaran dengan membacakan kitab yang dipelajari kemudian para murid masing-masing membacanya saling bergantian satu persatu.

Bagi Tuan Guru KH. Syarafuddin, Muhammad Saggaf merupakan murid yang istimewa. Keistimewaan tersebut mendorong gurunya untuk membebaskannya dari membanntu gurunya bekerja di sawah. Pada saat itu murid-murid yang mengaji di rumah seorang tuan guru tidak dipungut bayaran. Sebagai gantinya, mereka dihariskan berkerja di sawah tuan guru tersebut.

Berbeda dengan Muhammad Saggaf, karena keinginan kuat ayahnya agar ia menjadi murid yang pandai, ayahnya sanggup dengan membayar dengan 200 ikat padi setahun (sekitar 2 ton padi atau gabah), sebagai ganti kewajiban bekerja di sawah. Maksud ayahnya dengan kesediaan ini adalah agar anaknya tidak terganggu aktivitas belajarnya sehingga ia berkonsentrasi pada pelajarannya.

 Belajar ke Tanah Suci Makkah

Menjelang musim haji pada saat itu sekitar tahun 1923 M, Muhammad Saggaf yang pada saat itu tengah berusia 15 tahun, berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan studinya, memperdalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan islam dengan diantar langsung oleh kedua orangtuanya bersama adiknya, yaitu Muhammad Faishal dan Ahmad Rifa’i serta seorang kemenakannya.

Bahkan pada saat itu salah seorang gurunya ikut serta dalam rombangan itu, yaitu Tuan Guru KH. Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya.

Beliau belajar di Tanah Suci Makkah selama 12 tahun. Di kota suci itu beliau mula-mula belajar di Masjidil Haram. Ayahnya sangat selektif dalam mencarikan dan menentukan seorang guru yang akan mengajar dan mendidik putra kesayangannya itu. Ayahandanya meyakini bahwa seorang guru adalah sumber ilmu dan kebenaran serta menjadi contoh dan panutan bagi muridnya dalam segala aspek kehidupan baik dalam pola berfikir dan berperilaku, sehingga ilmu dan didikan yang diperoleh sang murid berguna dan bermanfaat bagi kehidupan baik di dunia dan di akhirat.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ayahnya sibuk mencarikannya seorang guru yang tepat dan cocok untuk mengajari dan mendidik anaknya. Kemudian bertemulah ayahnya dengan seorang syaikh yang belakangan dikenal dengan Syaikh Marzuki. Dari cara dan metode yang digunakan dalam mengajar, Tuan Guru KH. Abdul Majid merasa cocok jika syaikh tersebut menjadi guru bagi anaknya.

Syaikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ia sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Arab. Kebanyakan muridnya berasal dari Indonesia. Ada yang berasal dari Palembang, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Lombok.

Salah seorang murid Syaikh Marzuki yang berasal dari Lombok bernama H. Abdul Kadir dari desa Mamben Lombok Timur. H. Abdul Kadir sudah setahun lebih belajar di Makkah pada waktu itu.

Namun pada akhirnya Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid merasakan ketidakcocokan terhadap Syaikh Marzuki karena dirasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti dalam menuntut ilmu. Karena pada saat itu sang guru mengajarkan kitab gundul yang tidak memiliki baris sedangkan beliau masih murid baru dan dapat dikatakan masih awam dalam mempelajari kitab-kitab gundul yang tidak memiliki baris tersebut, sehigga beliau berfikiran ingin memulai pelajarannya dari awal agar mampu membaca dan memahami makna yang terkandung dalam kitab gundul tersebut. Setelah ayahnya pulang ke Lombok beliau langsung berhenti belajar mengaji pada Syaikh Marzuki.


Pada hari pertama beliau masuk di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah beliau bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang hubungannya paling dekat.Di sana juga ia bertemu as-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajar syair pada as-Sayyid Amin al-Kutbi, yang ternyata juga sebagai salah seorang guru di Madrasah ash-Shaulatiyah.

Sudah menjadi tradisi di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah bahwa setiap murid baru yang masuk harus mengikuti tes untuk menentukan kelas yang tepat dan cocok untuk murid baru tersebut. Demikian juga halnya dengan Muhammad Zainuddin, beliau juga diuji terlebih dahulu. Beliau diuji langsung oleh Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.


Akhirnya Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath menentukan ia masuk di kelas III. Padahal beliau belum terlalu menguasai ilmu nahwu dan sharaf yang diajarkan di kelas II. Mendengar keputusan tersebut, kemudian beliau meminta untuk diperkenankan masuk di kelas II, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran nahwu dan sharaf. Walaupun pada awalnya Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath bersikeras dengan keputusannya, namun argumentasi yang dikemukakan oleh Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir kembali. Kemudian Syaikh Hasan pun mengabulkan permohonannya, dan resmilah beliau diterima di kelas II.

Di Madrasah ash-Shaulatiyah ini, Muhammad Zainuddin mulai tekun belajar. Ia ingin membuktikan kemampuannya menguasai ilmu dengan baik. Di malam dan sore hari beliau belajar kepada beberapa guru yang lain.Di rumah juga beliau manghabiskan waktunya untuk belajar. Salah satu bentuk ketekunannya dalam belajar adalah besarnya porsi waktu yang disediakan untuk membaca kitab-kitab mulai dari setelah shalat Tahajjud sampai waktu shalat Shubuh tiba.

Pernah suatu ketika beliau tertidur pada saat membaca kitab, padahal di hadapannya terdapat sebuah lampu minyak sebagai alat penerang beliau dalam membaca. Tanpa beliau sadari sorbannya terlalap api dari lampu minyak tersebut dan terbakar. Mencium bau benda terbakar, ibunya pun terbangun, sementra beliau masih tertidur dengan lelapnya. Kemudian ibunya pun berteriak membangunkannya. Beliaupun terkejut dan terbangun.

Kebiasaan beliau membaca dan belajar dalam waktu yang cukup lama menyebabkan mata beliau mengalami gangguan. Meskipun demikian beliau masih tetap mampu mempertahankan kebiasaan membaca dan belajarnya tersebut sampai waktu yang cukup lama.Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya mengakui bahwa beliau tergolong murid yang cerdas. Syaikh Salim Rahmatullah sebagai kepala Madrasah ash-Shaulatiyah selalu mempercayakan beliau untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah Saudi yang sering kali datang ke madrasah itu. Penilik madrasah itu menganut faham Wahabi. Dan beliaulah satu-satunya murid Madrasah ash-Shaulatiyah yang dianggap menguasai faham Wahabi.

Pertanyaan penilik itu biasanya menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada anbiya’ dan auliya’, bernadzar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan beliau selalu berhasil menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan.

Prestasi akademiknya sangat membanggakan, ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Disamping itu, dengan kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun. Padahal waktu belajar normal adalah 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik ke kelas VII,VIII dan IX.Sahabat sekelas Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin bernama Syaikh Zakaria Abdullah Bila, mengakui kejeniusannya dan mengatakan: “Syaikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kejeniusannya yang tinggi dan luar biasa dan saya sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, dan kawan sekelasku dan saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi pada waktu saya bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah.”

Predikat istimewa ini disertai pula dengan perlakuan istimewa dari Madrasah ash-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis langsung oleh ahli khat terkenal di Makkah, yaitu al-Khathath asy-Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari direktur Madrasah ash-Shaulatiyah. Prestasi istimewa itu memerlukan pengorbanan, ibu yang selalu mendampingi selama belajar di Madrasah ash-Shaulatiyah berpulang ke rahmatullah di Mekah.Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan studinya di Madrasah ash-Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzul Hijjah tahun 1353 H dengan predikat “mumtaz” (Summa Cumlaude).

Setelah tamat dari Madrasah ash-Shaulatiyah, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin tidak langsung pulang ke Lombok, tetapi bermukim lagi di Makkah selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu dimanfaatkan untuk belajar antara lain belajar ilmu fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani. Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh selama di Tanah Suci Makkah adalah 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Ini berarti selama di Mekah sempat mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.

Para guru yang mengajarkan al-Quran dan kitab Melayu di Lombok diantaranya adalah:
Tuan Guru KH. Abdul Majid
Tuan Guru KH. Syarafuddin Pancor Lombok Timur
Tuan Guru KH. Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur.
Adapun para guru beliau di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah adalah:
Asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath
Asy-Syaikh Umar Bajunaid asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Muhammad Said al-Yamani asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Ali al-Maliki
Asy-Syaikh Marzuqi al-Palimbani
Asy-Syaikh Abubakar al-Palimbani
Asy-Syaikh Hasan Jambi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Mandili asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Mukhtar Betawi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Umar Hamdan al-Mihrasi al-Maliki
Asy-Syaikh Abdussattar ash-Shiddiqi Abdul Wahab al-Kutbi al-Maliki;
Al-‘Allamah al-Kabir al-Syeikh
Asy-Syaikh Abdul Qadir asy-Syibli al-Hanafi
Asy-Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi
As-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Khalifah al-Maliki
Asy-Syaikh Jamal al-Maliki
Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Kalantani asy-Syafi’i
 Asy-Syaikh Mukhtar al-Makhdumi al-Hanafi
Asy-Syaikh Salim Cianjur asy-Syafi’i
As-Syayid Ahmad Dahlan Shadaqi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Salim Rahmatullah al-Maliki
Asy-Syaikh Abdul Gani al-Maliki
As-Syayid Muhammad Arabi at-Tubani al-Jazairi al-Maliki
Asy-Syaikh Umar al-Faruqi al-Maliki
Asy-Syaikh Abdullah al-Farisi
Asy-Syaikh Malla Musa.


Jika diklasifikasikan guru-gurunya berdasarkan latar belakang madzhab yang berbeda, maka akan terlihat kategorisasi madzhab sebagai berikut: 11 orang bermadzhab Syafi’i, 6 orang bermadzhab Hanafi dan 11 orang bermadzhab Maliki.

Berdasarkan kategorisasi madzhab di atas terlihat jelas bahwa semua guru-guru beliau masih berada dalam satu landasan teologi yang sama, yakni faham Ahlussunnah wal Jama’ah. Dengan kata lain, bahwa tidak ada seorang pun gurunya yang menganut faham teologi yang berbeda, seperti Mu’tazilah, Syi’ah ataupun Wahabi.


Share:

Baru terungkap Karamah TGKH M Zainuddin yang di Riwayatkan kH Mas'hum Ahmad kyayi besar NU ( Nahdlatul ulama ) | cinta nw

Karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke Lombok.

Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.


“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti. Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M, itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.


Kewafatan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Akhir tahun 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa 21 Oktober 1997 M/18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah, sang ulama kharismatis, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur.

Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang Islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik umat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.

Wallahua'lam


Dan masih banyak karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang lainnya yang belum kami tulis di sini.

Share:

Benar kata P. Soeharto Belajar di Madrasah dapatnya dable " yuk berkunjung ke MDQH NW Pancor di bawah pimpinan TGKH M Zainul Majdi " | Cinta NW

MDQH NW Pancor berdasarkan Islam Ahlussunnah wal jama’ah Ala Mazhabil Imamissyafi’i RA. Dengan dasar Islam dimaksudkan bahwa Ma’had diadakan, diselenggrakan dan dikembangkan berangkat (point of depture) dari ajaran Islam, proses pengelolaannya secara islami dan menuju apa yang diidealkan oleh pendidikan yang islami. Dengan dasar Ahlussunnah wal jama’ah Ala Mazhabil Imamissyafi’i RA dimaksudkan bahwa Ma’had diselenggarakan, dikembangkan dan diamalkan dalam wacana tetap mengacu kepada sunnah Nabi SAW dan ulama salaf yang mu’tabaroh dengan mengikuti Imam Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam ranah I’tiqod atau ushuluddin, Imam Al-Ghozali serta Imam Junaid Al-Bagdadi dalam ranah tashowwuf dan Imam Mazhab As-Syafi’i RA dalam pengamalan praktis fiqihnya.

MDQH NW Pancor adalah penegak Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber kebenaran universal bagi ummat manusia dengan melahirkan insan yang unggul dalam mengusai tradisi ulama salaf saleh baik di bidang ilmiah maupun amaliyah serta mampu melahirkan generasi khairu ummah, tafaqquh fid diin.
3. Misi
Seiring dengan visi diatas, maka misi MDQH NW Pancor:
1) Menyelenggarakan pusat studi hukum Islam Ahlussunnah wal jama’ah Ala Mazhabil Imamissyafi’i RA.
2) Menyelenggarakan studi ilmu-ilmu islam klasik secara mendalam dan menyeluruh melalui sistem pendidikan pondok pesantren salafi.
3) Melakukan kaderisasi calon ahli fiqh yang dapat mengembangkan tradisi ilmiyah dan amaliyyah sesuai tuntutan zaman.


TUJUAN DAN ORIENTASI
1. Tujuan Umum
Dirintisnya MDQH NW Pancor ini bertujuan untuk mempersiapkan dan membina santri atau thullab untuk menjadi manusia muslim yang paripurna (insan kamil), yakin, ikhlas, istiqomah, tabah dan kreatif dalam menjalankan syari’at Islam secara kaffah dan dinamis.
2. Tujuan Khusus
1) Terwujudnya lembaga kader ahli fiqih sebagai pusat studi ilmu-ilmu fiqh klasik dan kontemporer demi merespons dinamika sosial yang terus bergulir.
2) Tumbuh dan berkembangnya generasi calon Faqihuz Zaman (Ahli Fiqh Kontemporer) yang mempunyai pemahaman yang utuh terhadap khazanah klasik, mampu mengaktualisasikan fiqh dalam konteks kehidupan riil sekarang, serta mempunyai kesalehan secara ritual dan sosial.

3) Memberi kesempatan kepada santri / thullab senior untuk memperdalam ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu bantu yang diperlukan.
4) Menanamkan ethos tafaqquh fiddien di kalangan santri / thullab agar mereka mampu memahami ajaran-ajaran Islam secara baik dan benar.
5) Mengkondisikan santri / thullab dalam suasana belajar yang dapat melahirkan ulama’ yang mampu memecahkan masalah-masalah keagamaan secara tepat sesuai dengan perkembangan zaman.
6) Menanamkan sikap dan kemampuan santri / thullab agar memiliki sifat saleh (akhlaq karimah) dan kepakaran (ulum nafi’ah)

Sebagai lembaga Pendidikan Tinggi, MDQH NW Pancor ini bersifat independen, dengan pengertian, MDQH NW Pancor bebas menentukan arah kebijakan dan kurikulum sendiri. Fungsi MDQH NW Pancor adalah :
1) Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
2) Menjadi agen moderinisasi bangsa dan negara dalam wadah masyarakat madani (civil society).

MDQH NW Pancor adalah program pendidikan kepesantrenan dalam bidang ilmu-ilmu agama Islam yang diperuntukkan bagi para santri / thullab yang telah menamatkan pendidikan Madrasah Aliyah atau yang sederajat. santri /thullab ini diselenggarakan oleh YAYASAN PENDIDIKAN HAMZANWADI PONDOK PESANTREN DARUNNAHDLATAIN NW PANCOR.
Tekad Pendirian MDQH NW Pancor setidaknya memiliki 3(tiga) komponen dasar pendidikan berupa;
1) Kualitas input santri/thullab dengan latar belakang kepesantrenan yang kuat dan intelektualitas serta moralitas yang tinggi.

2) Sistem belajar mengajar yang dikembangkan secara dialogis antara santri dan guru-guru dikondisikan dalam suasana kemitraan.
3) Menyiapkan dan rekrutment pengajar yang menguasai kitab klasik dan menguasai metodologi.

POTENSI DAN SUMBER DAYA
Secara umum MDQH NW Pancor memiliki sumber daya yang mendukung terlaksananya program perkuliahan MDQH NW Pancor. Hal ini dapat dilihat pada rincian sebagai berikut;
1) Sumber Daya Manusia (SDM)
Untuk mendukung terlaksananya program MDQH NW Pancor tersebut, MDQH NW Pancor telah memiliki tenaga pengajar dan administrasi yang sesuai dengan bidang study yang diperlukan.

2) Sarana Dan Prasarana
Inventarisasi sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan MDQH NW Pancor meliputi;

3) Ruang Belajar
Untuk menunjang kelancaran perkuliahan, MDQH NW Pancor telah menyediakan 7 (tujuh) lokal ukuran 5M x 5 m dengan penambahan lokal yang dipusatkan di musholla Al-Abror Hamzanwadi.
4) Ruang Kantor / administrasi
a. Ruang Amid / pimpinan
b. Ruang Tata Usaha dan administrasi
c. Ruang Masyaikh / dosen
d. Ruang Aula / pertemuan
5) Perpustakaan
Perpustakaan merupakan sumber dan jantung ilmu pengetahuan bagi MDQH NW Pancor. Berbagai aktifitas kajian fiqh dilakukakan. Ruang dan koleksi judul pustaka yang disediakan belum memiliki standar kebutuhan. Bangunan yang tersedia berukuran 6mx6m. Koleksi kitab dan buku yang dimiliki terdiri dari tiga bahasa; Arab, Inggris, dan Indonesia.

Guna menunjang proses belajar mengajar mahasiswa MDQH NW Pancor akan disiapkan ruang perpustakaan yang representatif dengan koleksi kitab-kitab dan buku-buku yang relevant dengan study di Perguruan Tinggi Agama. Untuk kelancaran proses penggunaan informasi, perpustakaan MDQH NW Pancor juga akan dilengkapi dengan komputer yang mampu menyajikan data / informasi perpustakaan secepat mungkin.
6) Studio Radio
7) Laboratorium
Laboratorium adalah sarana pendudukung kegiatan perkuliahan yang dimaksudkan untuk praktikum sebagai upaya penguatan pemahaman pengetahuan ataupun ketrampilan. Saat ini MDQH NW Pancor belum memiliki laboratorium, tapi secara jangka panjang akan diusahakan dengan gambaran rincian yaitu:

a. Laboratorium Bahasa, yang dilengkapi dengan 10 michrophon dan 10 set tempat duduk
b. Laboratorium Komputer, yang dilengkapi dengan 10 unit komputer pentium 4 dan 10 set meja komputer.
8) Lembaga Kajian Hukum Islam, sebagai sarana dan latihan mengembangkan kemampuan analisa thullab dalam bidang hukum.
9) Kerjasama
MDQH NW Pancor akan menjalin kerjasama dengan;
a. Pondok-pondok pesantren yang beraktifitas sama.
b. Lembaga-lembaga pemerintahan baik pusat maupun daerah.
c. Lembaga Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta.
d. Lembaga pendidikan tingkat SLTA di NTB dan diluar NTB.
e. Lembaga keuangan milik negara dan swasta.
f. Lembaga ekonomi milik negara maupun swasta.
Para dosen dan masyaikh yang menjadi tenaga pendidik dan pengajar di MDQH NW Pancor secara kualifikasi adalah para lulusan perguruan tinggi terkemuka di timur tengah dan Perguruan Tinggi Indonesia, di timur tengah terdapat perguruan tunggi atau madrasah terkenal di kota Makkah Al-Mukarromah yaitu Madrasah Ash-Shoulatiyyah yang dita’sis( didirikan ) seorang Ulama Besar dari India yaitu Fadhilatussyaikh Rahmatulloh Al-Hindy yang sudah terbukti melahirkan ulama-ulama termasyhur di dunia Islam, Universitas Ummul Qura’ yang dikelola oleh pemerintah Arab Saudi yang juga sebagai basis kader para ulama intelek yang memiliki integritas keilmuan dan banyak menjadi aktivis Islam dan dosen di berbagai perguruan tinggi ternama di timur tengah. Terdapat pula Perguruan Tinggi Darul ’Ulum Makkah yang didirikan oleh Al-’Allamah Al-’Arifubillah Asy-Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadaniy.

 Sebagai kebanggan luar biasa bangsa Indonesia yang melahirkan anak negeri yang mampu
dan memiliki kapfabilitas moral dan kelimuan dalam berbagai disiplin ilmu keislaman yang berasal dari Kota Padang ( Indonesia ) yang terkenal sebagai Musnid Dunia ( Ahli Sanad ) dalam bidang ’Ulumul Hadits. Terdapat pula beberapa perguruan tinggi di indonesia sperti UIN Syarief Hidayatulloh Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga, UIN Malang, IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, LPTQ Jakarta Dan Beberapa Perguruan tinggi terkemuka lainnya.
Penanggung Jawab

a. KH. M. Zainuddin Abdul Majid (alm)
b. Ummi Hj. Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid S.Ag
Personalia
a. Syaikhul Ma’had (Rektor) : TGKH. M. Zainul Majdi, MA.
b. Amid : TGH. M. Yusuf Ma’mun
c. Na’ib Amid : TGH. M. Zahid Syarief
d. Katib : TGH. Ayyudin Nuruddin, Lc.
e. Amin : TGH. Syamsiyah, BA.
f. Biro Ke-Thullab-an : TG. Drs.H. M. Suhaimi Rosyidi
g. Biro Umum : TGH Hudatullah MAZ, MA.
h. Biro Litbang : TG. H. M.Syafi’i Ahmad, MA.
Masyaikh
1. TGH. Salimul Jihad, Lc. M.Ag.
2. TGH. Husnuddu’at, S.Ag
3. TG. Drs. H. Ahmad Hamid
4. TG. Drs. H. Mahruddin Abul Gani
5. TGH. H. M. Nashrulloh Ma’shum
6. TGH. Sam’an Misbah
7. TGH. Mahfudz Muhyiddin, SQ, Sag.
8. TGH. LL Hsnan Sayuti, QH.
9. TGH. M. Haqqi, BA.
10. TGH. Abdul Muhit HAsan
11. TGH. M. Said Abdurrahman, LC.
12. TGH. Hasan Basri
13. TGH. M. Adnan Ruslan
14. TGH. Muh ZuhdiAhmad, LC.
15. TGH. Mustafa Alawi
16. TGH. Abdusshobur Majid Thohir
17. TGH. Husnan Wadi, SHi.
18. TGH. M. Ishak Khairuddin, LC.
19. TGH. M. Haromain Jahri, LC.
20. TGH. Junaidi Rosyidi, LC.
21. TGH. M. Ja’faruddin Munir
22. Ust. M Imanuddin Sumar, MA.
23. Ust. H. Asrori Mustofa
Koperas
H. M. Zainul Arifin, QH.
Staf Tata Usaha Dan Pengelola Administrasi
a. Ust. M. Dimyati Ash-shoufi
b. Sanusi Salim
c. Hirwadi, QH.
d. Masnun, QH.
Perpustakaan
Iskandar Zulkarnain, QH.
Syarat-syarat Dosen dan masyaikh MDQH NW Pancor
Dosen dan masyaikh yang mengajar di Kampus MDQH NW Pancor sebagai berikut;
a. Memiliki kemampuan membaca kitab klasik dengan baik
b. Memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap Nahdlatul Wathan
c. Memiliki keyakinan Ahlussunnah Waljama’ah
d. Memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap pondok pesantren dan kepemimpinanTGB KH M. Zainul Majdi MAi

e. Memiliki pengalaman mengajar di pondok pesantren
K. PROGRAM STUDY DAN KURIKULUM
1. Program Study
a. Program study ini berstatus S1, berlangsung selama 4 (empat) tahun berturut-turut. Setiap tahun terdiri dari 2 (dua) semester.
b. Program study ini mengutamakan peranan akhlaq al-karimah, disamping menguasai ilmu yang tertera dalam kurikulum dengan baik.
c. Program ini statusnya setara dengan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh Departemen Agama (sekolah negeri).



2. Kurikulum MDQH NW Pancor
Kurikulum MDQH NW Pancor disusun sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu mengkaji bidang studi Agama Islam dengan program kekhususan ilmu yang terbagi dalam 5 (lima) program bidang studi :
a. Program Pengajian pendalaman Tafsir
b. Program Pengajian pendalaman Hadits
c. Program Pengajian pendalaman Fiqih dan Ushul Fiqih
d. Program Pengajian pendalaman Ilmu Alat
e. Program Pengajian pendalaman Tasawuf
3. Rincian Mata Kuliah
مـادة
 القرآن\ التفسير
 اصول التفسير
 الحديث
 مصطلح الحديث
 الفقه
 اصول الفقه
 قواعد الفقهية
 المقارنة  الفرائض
 النحو
 الصرف
 البلاغة
 المنطق
 العروض
 قواعد اللغة العرابية
 الإنشاء  التحفيظ
 شؤن الإمامية الوطنية
 شؤن النهضية
 التوحيد
 الشمائل
 التاريخ
 التصوف
 تعليم المتعلم

4. Kitab-Kitab Yang Digunakan Pada Pengajian Pagi Di Musholla Al-Abror Hamzanwadi
اليوم اسم الكتاب المشيخ/ الأستاذ
الأحد الشمائل الحاج حسن الدعاة
الإثنين تجريد الصريح الحاج زاهد شريف
الثلاثاء أنوار المسالك الحاج مصطفى علوى
الأربعاء تفسير ابن كثير الحاج هداة الله
الخميس منهاج العابدين الحاج سمعان مصباح
الحاج نصر الله معصوم
الجمعة عموم المستشاريون
السبت الأذكار الحاج سليم الجهاد

L. METODE BELAJAR
Belajar mengajar disampaikan menurut klasifikasi program belajar sebagai berikut :
1. Pengajian pagi (jam nol), yang diikuti oleh semua tingkat sebelum kuliah kelas
2. Dirasah yaumiyyah disampaikan dengan metode :
a. Ceramah dan dialog interaktif
b. Pengajian model bandongan dan sorogan
c. Studi kepustakaan literatur klasik keagamaan
d. Tadris wa ta’lim
e. Muhadatsah / muhawaroh
f. Penugasan penulisan ilmiah (jangka panjang)
g. Persiapan event Musabaqoh Qiro’atul Kutub Nasional setiap tahun
3. Kegiatan extra
a. Tahfizul Qur’an
b. Qiro’atul Kutub
c. Muhadlarah

d. Mudzakaroh / kajian mendalam terhadap kitab-kitab tertentu untuk penguasaan bidang studi dengan bimbingan masyaikh bidang studi
e. Membahas Masa’il Fiqhiyyah, Maudlu’iyyah dan Waqi’iyyah
f. Latihan Tilawah al-qur’an
g. Marawis / Hadroh
h. Rebana qosidah (tim wasiat)
i. Seni Kaligerafi
j. Kuliner dll
M. SYARAT-SYARAT PESERTA
1. Persyaratan Santri / Thullab
Pendaftaran peserta (santri thullab) MDQH NW Pancor dilakukan setiap satu tahun sekali, sesuai dengan masa pendidikan. Dalam arti, setelah satu angkatan selesai baru menerima peserta didik yang baru. Penerimaan santri / thullab baru MDQH NW Pancor dilakukan melalui dua tahap; pendaftaran dan seleksi. Calon santri / thullab yang akan mengikuti Program MDQH NW Pancor diharuskan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Telah lulus pendidikan serendah-rendahnya Madrasah Aliyah atau yang sederajat
2) Mengisi formulir pendaftaran
3) Menyerahkan Foto Copy SKHU atau SLTS (Surat Tanda Lulus Sementara)
4) Membayar uang pembangunan Rp 200.000,- (dicicil 2X dalam satu tahun)
5) Membayar :
1. Uang pendaftaran : Rp 50.000,-
2. Uang Ta’aruf : Rp 15.000,-
3. Uang Dzikrol Hauliyyah : Rp 5000,-
4. Uang Hultah : Rp 5000,-
5. Uang Perpustakaan : Rp 5000,-
Jumlah Rp 280.000,-
6) Membayar I’anah/ SPP minimal 2 bulan (2 x Rp. 30.000 = Rp 60.000,-)
Sedangkan proses seleksi calon mahasiswa Ma,had ’Aly MDQH NW Pancor, sebagai berikut:
a. Menjadi Thullab aktif
b. Bisa membaca dan memahami teks kitab fathul qorib, fathul mu’in atau yang setingkat.c. Memiliki kemampuan ilmu fiqh dan ushul fiqh dasar.
d. Tidak memandang jenis kelamin, laki-laki maupun perempuan.

MAJELIS THULLAB MDQH NW PANCOR
Organisasi santri merupakan kelengkapan lembaga sebagai sarana perpanjangan tangan lembaga untuk pengembangan wawasan dan peningkatan kecendekiawanan serta integritas kepribadian thullab serta berbagai bentuk kejasama dan hubungan keluar dengan berbagai elemen masyarakat. Kegiatan yang dilakukan oleh organisasi ini bersifat ekstra-kurikuler yang meliputi tri dharma Ma’had.
Organisasi Thullab (Majlis Thullab)














Share:

MDQH NW Pancor Salah satu Ponpes yang Di Kagumi Almarhum Presiden Suharto | Cinta NW

Pernyataan AL–Magfurullahu Syaikh Sayyid Amin Al- Quthbi :
فىِ سَاحَةِ اْلعِلْمِ لَهُ مَعْهَدٌ * لاَ يَبْرَحُ الطُّلاَبُ فىِ ظِلِّهِ
Di dunia ilmu dia memiliki Ma’had
Tidak akan pernah kurang
para Thullab bernaung di bawahnya

Pesan Al-Maghfurulahu Maulana Syeikh :
معهد القرآن بنا * فادخلوا طالبينـا
بســلام آمنين * نهضة الوطن فينا
Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits Tetap Eksis
Silahkan Anda masuk untuk belajar di dalamnya
Dengan rasa nyaman dan tenteram
Di Nahdlatul Wathan.
Pondok Pesantren merupakan pusat pendidikan Islam, dakwah dan pengabdian masyarakat yang tertua di Indonesia. Pondok pesantren diakui sebagai sistem dan lembaga pendidikan yang memiliki akar sejarah dengan ciri-cirinya yang khas. Keberadaannya sampai sekarang masih berdiri kokoh ditengah-tengah komunitas masyarakat. Hal ini terbukti dengan kenyataan bahwa pondok pesantren saat ini masih menampakkan keaslian, kebhinekaan dan kemandirian walaupun usianya setua proses Islamisasi di negeri ini.
Kondisi obyektif menunjukkan bahwa dekade terakhir ini mulai dirasakan ada ‘pergeseran’ peran dan fungsi pesantren. Peran dan fungsi pesantren sebagai kawah candradimuka orang yang rasikh fi ad-diin (ahli dalam pengetahuan agama) terutama yang terkait dengan norma-norma praktis (fiqh) semakin memudar. Hal ini disebabkan antara lain desakan gelombang modernisasi, globalisasi dan informasi yang berimplikasi kuat pada pergeseran orientasi hidup masyarakat. Minat masyarakat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama semakin lemah. Kondisi bertambah krusial dengan banyaknya ulama yang menghadap Allah sebelum sempat menyampaikan keilmuan dan kesalehannya secara utuh kepada generasi penggantinya.

Faktor inilah yang ditengarai menjadikan out put pesantren dari waktu ke waktu mengalami degradasi, baik dalam amaliah, ilmiah maupun khuluqiyah.
Penurunan kualitas peran dan fungsi pesantren ini memunculkan kerisauan di kalangan ulama akan punahnya khazanah ilmu-ilmu keislaman. Jika persoalan ini tidak ditangani secara serius tentu sangat membahayakan masa depan umat Islam. Dari sinilah pentingnya segera dibentuk lembaga yang secara khusus intens mempersiapkan kader-kader ulama yang memiliki integritas ilmiah, amaliah dan khuluqiyah yang mumpuni.


LATAR HISTORIS MDQH NW PANCOR
MDQH NW Pancor didirikan pada Tahun 1965 atau bertepatan dengan tangal 15 Jumadil Akhir 1385 H dan kini telah berusia 45 tahun. Lembaga tersebut dirintis oleh Maulana Syaikh Tuan Guru KH. M. Zainuddin Abdul Madjid, Abul Madaris Wal Masajid, Abu Rauhun Wa Raihanun, pendiri NWDI, NBDI, NW dan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan Pancor Selong Lombok Timur. seorang ulama ’allamah yang bercita-cita mulia, yaitu ingin menyebarkan ajaran Islam untuk melenyapkan segala bentuk kemungkaran terutama di Lombok dan di muka bumi ini.

Kehadiran Ma’had di lombok atau lebih dikenal dengan bumi selaparang ini sebagai suatu ikhtiar dan wadah benteng pertahanan iman dan taqwa yang kokoh dalam upaya mempertahankan idealisme Islam Ahlussunnah Waljama’ah ‘ala Mazhabil Imamissyafi’i RA.
Setelah beliau menyelesaikan pendidikannya di negeri para nabi dan ulama Kota Makkah Al-Mukarromah,Beliau awalnya disuruh dan direkomendasikan untuk menetap disana sebagai pengajar tetap di salah satu perguruan tinggi tertua di kota Makkah yaitu perguruan As-Sholatiyah yang sudah terbukti melahirkan jutaan ulama di muka bumi ini,akan tetapi dengan kegalauan beliau melihat kondisi dan realita daerah asalnya, beliau lebih memilih untuk tetap pulang ke kampung halamannya tercinta di pulau Lombok yang terkenal pada waktu itu masih menganut kepercayaan poloteisme dan animisme.

Dimulai dari mengajar agama, disajikan dengan model pengajian kitab kepada para santri di sebuah bangunan sederhana, yaitu diawali dari sebuah musholla kecil yang dinamakan pesantren Al-Muajahidin dusun Bermi di desa pancor kampung tempat kelahirannya. Mereka dididik untuk berakhlaqul karimah dan menguasai ilmu secara luas agar dikemudian hari menjadi insan yang bermanfaat bagi bangsanya. Pesantren Al-Mujahidin inilah cikal bakal dan embrio dibangunnya MDQH NW Pancor, Karena itulah model pesantren salafi pertama yang dikembangkan dan diadopsi beberapa Pesantren NW.
Semangat pendiri Pesantren Almujahidin tersebut harus terus dikembangkan oleh para generasi yang memimpin Pondok Pesantren dan sekolah-sekolah yang bernaung dibawah bendera NW hingga sekarang.

Terutama yang berkaitan dengan kemajuan zaman, yaitu dengan meluasnya kehidupan keagamaan dan munculnya berbagai persoalan baru yang memerlukan status Hukum Islam. Melihat kenyataan diatas, maka sangat diperlukan munculnya ’ulama atau sarjana agama yang berkualitas dan mampu mengatasi persoalan yang sedang dihadapi oleh ummat.
Kehadiran Ma’had yang oleh pendirinya difokuskan untuk mendalami ilmu-ilmu agama secara kaffah, membahas dan mendalami kitab-kitab kuning karangan ulama salaf yang sangat dominan dipedomani dalam pelaksanaan ibadah syari’ah sehari-hari.


Tradisi yang berkembang di MDQH NW Pancor, berprinsip bahwa pesantren dan kitab kuning merupakan dua sisi suatu benda yang tidak terpisahkan. Sejak awal berdirinya telah banyak melakukan pengkajian karya-karya ’ulama klasik yang bersumber dari kitab kuning. Hal tersebut cukup relevant bagi santri yang berminat mendalami bidang studi keagamaan secara mendalam.
Pentingnya kedudukan kitab kuning di Ma’had ini menunjukkan bahwa Islam yang ditebarkan dari pondok pesantren, adalah Islam yang memiliki kesinambungan yang kuat dengan Islam sebagaimana difahami dan dihayati oleh generasi-generasi sebelumnya.

 Maka untuk menjaga kesinambungan rantai ilmu keislaman yang optimal, tidak ada jalan lain kecuali dengan mempertautkan dan menduplikasikan apa yang ada (faham keislaman) yang dimiliki oleh generasi sebelumnya, yaitu generasi ’ulama salaf. Semakin mencerminkan kesalehan, akan semakin tinggi tingkat ”kebaikan”. Inilah arti ”tradisionalisme” yang melekat di Ma’had itu sendiri.
Sebagaimana pesantren zaman itu, pada awalnya pengajaran menggunakan sistem sorogan dan weton atau bandongan dengan pengantar bahasa daerah atau sasak kalau tradisi di jawa dulu dengan bahasa pengantar Jawa dan tulisan pego. Pada awal pendiriannya Ma’had menerapkan sistem madrasi (klasikal), dengan mendirikan Ma’had Lilbanin. Sistem pengajaran disajikan secara berjenjang dalam empat tingkat, masing – masing selama dua semester atau satu tahun.
Pada tahun 19..... M. dirintis pembaharuan lagi di Ma’had dengan mendirikan program Ma’had lilbanat khusus untuk perempuan dalam tiga tingkat, sebagai bentuk manifestasi dari Tholabul ’ilmi faridhotun ’ala kulli muslimin wa muslimatin. Pada tahun ...... dengan berbagai pertimbangan dan harapan, semua program disetarakan baik untuk thullab maupun tholibat menjadi empat tahun untuk program qismuddiny dan dua tahun untuk program qismul’aly.

Dari awal berdirinya Ma’had menyelenggarakan pembelajaran secara talaqqy dengan bertemu dan berjumpa langsung dengan para pembimbing atau masyaikh. Para thullab maupun tholibat dikumpulkan dalam satu kelas sesuai dengan tingkat masing – masing,akan tetapi pada tahun 2010 kelas dipisahkan sesuai dengan jenis kelamin dengan adanya para wali tingkat yang bertanggung jawab.
Keberadaan Ma’had dari dulu hingga saat ini tetap memiliki andil besar dan dirasakan oleh masyarakat sebagai suatu kebutuhan primer, hal itu dapat dibuktikan secara empiris dengan banyaknya para alumni atau dalam istilah populer ma’hadnya para mutakhorrijin - mutakhorrijat atau Abituren yang tersebar hampir disetiap masjid, musholla ataupun sekolah-sekolah maupun pondok pesantren terutama di pulau lombok yang populer dengan sebutan Pulau Seribu Masjid dan Serambi Masjidil Haram.

Hal ini diharapkan sebagai momentum bagi setiap alumni, pecinta, warga Nahdlatul Wathan dan ummat Islam secara umum yang cinta dengan islam dan imannya untuk terus melestarikan, mempertahankan serta memelihara warisan nan luhur, harum dan semerbak Maulana Syaikh sebagai rasa takzim, syukur, bakti dan silaturrohmi kita kepada beliau.
Dengan bergantinya para pengurus dan staf dosen atau masyaikh,maka perlu juga diadakannya beberapa langkah pembaharuan untuk menciptakan output yang lebih berkualitas, salah satu diantaranya dengan adanya inisiatif didirikannya perpustakaan Ma’had sebagai sumber dan sentral maroji’ atau refrensi pengayaan dan pengembangan intelektual para santri atau thullab.









Share:

makam gajah mada yang sangat misterius diberbagai tempat salah satunya di NTB | Cinta NW

Mahapatih Gajah Mada sangat terkenal karena mampu menyatukan sejumlah wilayah nusantara di bawah panji Kerajaan Majapahit.

Namun karir gemilang Gajah Mada menjadi mahapatih Kerajaan Majapahit mengalami masa surut setelah Perang Bubat antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit tahun 1279 Saka atau 1357 M.

Dalam Pararaton, dikisahkan bahwa setelah Perang Bubat, Gajah Mada menikmati masa istirahat setelah 11 tahun menjadi mangkubumi.

Di akhir masa hidupnya Patih Gajah Mada pergi meninggalkan Keraton Majapahit ke arah timur.

Selanjutnya, diceritakan bahwa sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun 1290 Saka atau 1368 Masehi.

Ada sejumlah tempat yang dipercayai sebagai makam Gajah Mada diantaranya Situs Wadu Nocu di Desa Padende, Donggo, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Menurut keyakinan masyarakat setempat Wadu Nocu adalah makam Gajah Mada. Keyakinan ini diungkapkan secara turun temurun oleh penjaga makam tersebut.

Bima termasuk wilayah yang pernah ditaklukan Gajah Mada. Ketika Gajah Mada menaklukan suatu wilayah bukan suatu yang mustahil jika dia membuat sebuah tempat yang pada ratusan tahun kemudian bisa dikatakan sebagai petilasan.

Sementara dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Empu Prapanca
disebutkan bahwa Gajah Mada melakukan perjalanan ke berbagai daerah yang ada di sebelah timur Pulau Jawa, termasuk daerah-daerah di Pulau Sumbawa, seperti Taliwang, Dompo (Dompu), Sapi, Sanghyang Api (Pulau Sengeang), dan juga Bima. Kemudian Gajah Mada dikabarkan meninggal dunia pada 1364 M setelah mengalami sakit.

Di Selaparang, Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat makam yang dipercayai sebagai makam Gajah Mada. Makam tersebut dapat ditempuh perjalanan 2 jam dari Mataram.

Bentuk makam tersebut seperti sumur bundar dengan susunan batu sungai berukuran sedang yang tertata rapi tanpa tulisan apa pun.

Masyarakat Tuban, Jawa Timur pun menyakini jika Gajah Mada dimakamkan di daerah mereka tepatnya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban .

Makam tersebut dikenal dengan nama Makam Barat Ketiga. Barat Ketiga merupakan istilah dari bahasa Jawa yang jika dialihbahasakan berarti angin kemarau.Di Provinsi Lampung juga ada makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan yang terakhir bagi Patih Gajah Mada.

Makam tersebut terletak di Pugung Tampak, Kabupaten Liwa, Provinsi Lampung. Konon dahulu kala Kapal yang ditumpangi Patih Gajah Mada tenggelam di Perairan Pugung, setelah tiba di Pugung Patih Gajah Mada jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Pekon Pugung.

Keyakinan itu dikuatkan dengan adanya pusara makam serta peninggalan berupa keris, mahkota, pedang, tombak, ikat pinggang, ikat kepala, dan peninggalan lainnya.

Sejak dulu, tempat yang diyakini sebagai lokasi makam Gajah Mada itu hanya berupa gundukan tanah merah.

Baru pada 1981 dibangun pagar keliling. Setelah itu diperbaiki kembali dengan membuat lantai di sekitar lokasi makam pada 2010.

Warga pesisir pantai antara Pelabuhan Sempo Liya dan Pulau Simpora, tepatnya di Kampung Mada, Desa Matiri, Batauga, Kepulauan Wangi-wangi, Buton, Sulawesi Tenggara juga menyakini makam Gajah Mada berada di wilayahnya.

Hal ini dibuktikan dengan adanya batu prasasti yang dinamakan Batu Mada. Konon Gajah Mada yang memiliki banyak kesaktian memilih salah satu gua di wilayah Togo Moori untuk bertapa.

Di gua daratan Pulau Karang Wangiwangi yang bersambung ke laut lepas inilah Patih Gajah Mada moksa (menghilang) saat semadi.

Demikianlah cerita mengenai kelima makam Gajah Mada yang diyakini warga setempat sebagai tempat dimakamkannya tokoh legendaris ini.

Namun soal kebenaran makam Gajah Mada belum diketahui pasti.

Share:
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG PECINTA NAHDATUL WATHAN/ POKOKNYA NW / POKOK NW IMAN DAN TAQWA / cintanw.blogspot.com
SEPUTAR SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSA TENGGARA BARAT DAN NUSANTARA INDONESIA

HIMPUNAN SEJARAH

Popular Posts