Showing posts with label gumi sasak. Show all posts
Showing posts with label gumi sasak. Show all posts

Sejarah Lombok Yang Sudah Tertulis Di Kitab Kertagama | Cinta NTB

Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok - Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa. Namun, penduduk Nusa Tenggara Barat yang berjumlah lebih dari tiga juta, dua pertiganya tinggal di Pulau Lombok. Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa. Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka sebagian besar memeluk agama Islam.


Asal Kata Lombok dan Sasak
Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa Sasak; “lomboq” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya “perahu bercadik”.
Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah “sebia” (dibaca “sebie”)

Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak. Nama Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu nama dari Pulau Lombok. Nama lain yang sering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti “sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”, sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu kerajaan Selaparang.

Sejarah Asal Usul Nama Lombok
Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.

Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sang Permaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.

Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.

Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia)

Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang.

Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang Sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.


Share:

Sejarah Karomah TGH MAHSUN masbagek | Cinta NW

PERJUANGAN TGH MAHSUN (MASBAGIK)
DALAM MENEGAKKAN AJARAN AGAMA ISLAM

1. Kepribadian TGH Mahsun
TGH Mahsun memiliki nama kecil Ahmad dilahirkan pada tahun 1907 Masehi tepatnya di Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Ahmad dilahirkan dari pasangan Haji Mukhtar dan Hajjah Raodah. Haji Mukhtar sendiri pernah kawin sampai 4 (empat) kali. Adapun istri-istri dan putra-putri Haji Mukhtar sebagai berikut :
a. Pernikahan dengan Inaq Tanah mempunyai anak Maenah
b. Pernikahannya dengan Hajjah Raodah mempunyai anak bernama Ahmad (TGH Mahsun)
c. Pernikahan dengan Inaq Husni mempunyai anak bernama Nikmah
d. Pernikahan dengan Inaq Anwar mempunyai anak antara lain Haji Akil Mukhtar, Kamaruddin, Nikmah, dan Huzaenah

Karakter dari orang tua Ahmad adalah sosok yang tekun, rajin, selalu memuliakan para ulama, orang-orang shaleh dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kelahiran putera (Ahmad) sangat menggembirakan hati dan beliau berharap kelak Ahmad akan tumbuh menjadi seorang yang dapat memberikan pengajian kepada masyarakat. Obsesi Haji Mukhtar untuk menjadikan Ahmad sebagai putra yang dapat mengembangkan ajaran Islam dan membangun kehidupan sosial ekonomi masyarakat, sangatlah beralasan karena situasi dan kondisi pada waktu itu, amat sangat membutuhkan figur kharismatik.
Sejak masih kecil, Ahmad telah memperlihatkan sifat-sifat kepemimpinan ; rajin, tekun, sabar, pemberani dan pemurah, maka tidaklah mengherankan ketika masih kecil Ahmad memiliki teman-teman yang banyak. Hidup dalam belaian kasih sayang orang tua dan ekonomi yang berkecukupan tidaklah menjadikannya sebagai seorang yang angkuh dan sombong. Bahkan dalam lingkungan keluarga Haji Mukhtar memberikan pendidikan dasar-dasar agama Islam. Dan sebagai wujud perhatiannya kepada para ulama, orang-orang shaleh beliau menyerahkan Ahmad kepada guru ngaji di kampong.

2. Pengembaraan TGH Mahsun dalam Menuntut Ilmu

Setelah menempuh pendidikan non formal yaitu belajar membaca Al Qur’an, ia memasuki lembaga pendidikan formal. Pada usia 8 tahun, Ahmad masuk pada Sekolah Rakyat. Guru-guru sangat senang dengan sifat dan sikap pribadi Ahmad. Waktunya dihabiskan untuk belajar. Berkat ketekunan, kedisiplinan dan kecerdasannya Ahmad menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat. Harapan untuk peningkatan perkembangan pendidikan Ahmad, orang tuanya kemudian melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Ibtidaiyah. Di Madrasah Ibtidaiyah, Ahmad sangat menyenangkan hati para gurunya (ustadz) karena sopan santun dan budi pekerti yang baik, serta rajin dalam mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan.

Motivasi Ahmad untuk terus mendapatkan pendidikan semakin meningkat, setelah menyelesaikan pendidikan di Ibtida’yah beliaupun kemudian berangkat untuk melanjutkan pendidikannya di Bengkel Lombok Barat. Beliau diajar oleh seorang tokoh dan ulama besar TGH Muhammad Shaleh Hambali yang sudah sangat terkenal pada masa itu. Ahmad belajar ilmu-ilmu Tauhid, Usul Fiqh, dan lain-lain. Dalam belajar di Bengkel beliau terus mengkaji masalah-masalah agama, jika tidak diketahui, beliaupun segera mempertanyakan tanpa harus malu, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian beliau mendapatkan pengakuan sebagai murid yang terbaik. Oleh karena itu, TGH Muhammad Shaleh Hambali pernah berpesan “cukuplah yang menjadi wakil saya di Lombok Timur TGH Mahsun (Ahmad), jika ada masalah bertanyalah padanya (TGH Mahsun)”.


Selain itu beliaupun (TGH Mahsun) banyak belajar pada Tuan Guru Badarul Islam Pancor. Untuk memperdalam ilmunya iapun berangkat ke Makkah Al Mukarromah pada tahun 1936 M dan kembali ke Tanah Air pada tahun 1940 M. Selama beliau di Mekah beliau terus berguru dan belajar pada ulama-ulama terkenal dan Imam Masjidil Haram. Selama 4 tahun di Makkah, banyak ilmu-ilmu agama yang diperoleh. Pengembaraannya di Makkah menjadi bekalnya untuk memberikan dakwah pengajian di masyarakat.

3. Kiprah dan Perkawinan TGH Mahsun
Sepulang dari Makkah ia memberikan pengajian dengan sistem Khalaqoh. Keberhasilannya dalam memberikan dakwah Islamiyah di Lombok, sangatlah mencengangkan karena dalam waktu singkat berbagai dakwah dilakukan di berbagai tempat di pulau Lombok, seperti Masbagik (kecamatan tempat lahirnya), Banok, Sukaria, Suela, Sembalun, dan Bayan (Lombok Barat). Untuk melaksanakan dakwahnya tidak jarang dilakukan dengan menunggang kuda seperti ke Sembalun. Keberhasilan ini ditunjang oleh strategi dan prinsip pendekatan yang dipergunakan dalam menyampaikan dakwah, antara lain
 (1) menyenangkan para jama’ah bukan kemudian menakut-nakuti dan tidak mempersulit
 (2) setelah selesai memberikan materi biasa dilanjutkan dengan materi tanya jawab sesuai dengan kebutuhan para jama’ah,
 (3) setiap jama’ah yang datang berkunjung ke rumahnya, selalu dterima dengan sikap dan etika ketimuran
 (4) tidak pernah menuntut imbalan dalam setiap dakwahnya sehingga tidak merepotkan para jama’ah,
 (5) memperhatikan pentahapan materi dakwah dan memperhatikan volume jama’ah yang menghadiri pengajian,
 (6) terbuka dan transparan, apabila tidak diketahui suatu hukum beliau tidak menyampaikannya atau dan meskipun ia mengetahui hukum yang ditanyakan oleh para jama’ah dengan rela dan rendah hati kemudian menyerahkannya kepada muridnya sebagai tanda penghargaan,
(7) memilih kata yang tepat dalam berdakwah, beliau sangat memperhatikan tingkat kejenuhan para jama’ah sehingga disela-sela pengajian ia memberikan humor yang agamais.
TGH Mahsun selama menjalankan dakwah Islamiyahnya didampingi oleh istri-istrinya tercinta. Beliau pernah menikah sampai 9 (sembilan) kali dan memiliki banyak keturunan. Adapun istri-istri dan putra-putri beliau dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Pernikahannya dengan Inaq Badri alias Kalsum, alias Hajjah Raodah mempunyai putra-putri antara lain :
 (1) TGH Marzuki Mahsun,
 (2) Abdul Hanan (Bapak Uhip),
(3) Zohrah (Inaq Qazuini),
 (4) Joharah (Inaq Iftihar),
(5) Muslihun (Inaq Nurul Azmi),
(6) Mulkiah,
(7) Faizah,
(8) Asnawi.
b. Pernikahannya dengan Inaq Syaraf (Inaq Eseq) mempunyai anak :
(1) Bapak Zaki,
(2) Haji Nasrin Mukhtar
c. Pernikahannya dengan Hajjah Selamah dari Dasan Ma’alan tidak memiliki keturunand. Pernikahannya dengan Inaq Muslihin mempunyai anak bernama Muslihin (almarhumah)
e. Pernikahannya dengan Hajjah Rahmah tidak memiliki keturunan
f. Pernikahannya dengan Inaq Ridwan (Kalsum) memiliki putra-putri antara lain : (1) Haji Ahmad Wildan Mahsun (almarhum),
(2) Ahmad Rifa’i (almarhum),
(3) Hamdiah,
 (4) Hajjah Faoziah
g. Pernikahannya dengan Hajjah Wardiah mempunyai putra-putri antara lain :
 (1) Ihsan (almarhum,
(2) Muhammad Lutfi,
 (3) Haji Wahibullah SIP,
 (4) Haji Miftahul Hadi, SH,
 (5) Muhimmah,
 (6) Ahmad Nizam
h. Pernikahannya dengan Hajjah Mahmudah mempunyai putra-putri antara lain : (1) Muzmah,
(2) Zulfaiyah,
(3) Nahdiyah,
 (4) Hauliyah
i. Pernikahannya dengan Hajjah Nur Asmah (Pontianak) mempunyai putra-putri antara lain :
(1) Hajjah Nurjannah,
(2) Hajjah Nurhasanah,
 (3) Muhammad Farhi,
(4) Solehah, S.Pd.,
(5) Dra Zakiah
, (6) Huliyah,
 (7) Narjus Safa’ah,
 (8) Daman Huri,
(9) Nurul Hawalis (almarhum)
4. Karya dan Peninggalan TGH Mahsun
Gerakan-gerakan TGH Mahsun dalam mengembangkan dan memberikan pelajaran Agama Islam bukan hanya kepada orang tua. Beliaupun bergabung dalam Organisasi Nahdlatul Ulama dan pada tahun 1936 Masehi mendirikan Lembaga Pendidikan Diniyah. Lembaga pendidikan tersebut didirikan bersama tokoh-tokoh seperti TGH Muhammad Zen (Bangket Kebon atau Kebun Lauq), TGH Hasbullah Polak Penyayang, TGH Achsit Muzahar Bila Sundung, TGH Abdul Hakim, TGH Muhammad. Perkembangan selanjutnya beliau mendirikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) yang kemudian dilebur menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB). Pada tahun 1968 keluar dari Organisasi Nahdlatul Ulama membentuk organisasi yang berdiri sendiri yang diberi nama Organisasi Rabhitah. Selanjutnya dalam organisasi tersebut membentuk wadah Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ummah (Yadinu). Yang kemudian Madrasah Ibtidaiyah Yadinu (sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah Yadinu di Masbagik Selatan). Alhamdulillah berkat jasa-jasanya, sampai saat ini berkembang lembaga-lembaga pendidikan dalam wadah Organisasi Yadinu dan Al Ijtihad.
TGH Mahsun tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan, beliaupun juga terjun menumpas para penjajah bangsa. TGH Mahsun adalah tokoh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Pasukan Banteng Hitam. Beliau memimpin Masbagik saat penyerangan Belanda di Kota Selong, bergabung dengan pasukan dari Lendang Nangka (H. Jumhur Hakim) dan Pasukan dari Pringgasela (TGH Muhammad). Pada saat penyerangan tersebut, gugurlah pahlawan-pahlawan yang sangat kita banggakan antara lain ; TGH Muhammad, Sayid Saleh (Pringgasela), TGH Faesal saudara dari TGH Zaenuddin Abdul Majid (Pancor).



Share:

Riwayat Karamah Tanda Cinta Sayyid Muhammad bin Alawi kepada Maulanasyikh M Zainuddin Lombok "Gubernur NTB umur 14 tahun "| Cinta NW

Awal juli tahun 1986 silam, seorang ulama besar Kota Makkah yang masyhur di Dunia internasional, Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki melakukan safari dakwah ke Indonesia. Beliau memang memiliki banyak murid di tanah air. Termasuk murid dari pada walid beliau, Sayyid Alawi Al-Maliki. Satu diantara murid dari walid beliau adalah, Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Pendiri organisasi massa terbesar di Nusa Tenggara Barat yaitu Nadhaltul Wathan (NW).

Abuya – biasanya Sayyid Muhammad bin Alawi dipanggil oleh para muridnya – pada safari kali ini berkomitmen berkunjung ke Lombok untuk menemui Maulana Syekh. Mendengar kabar bahwa Abuya sudah berada di Surabaya, Maulanasyekh mengutus salah seorang muridnya sebagai duta untuk “menagih” komitmen Abuya. Murid itu adalah TGH. Muhammad Thahir Azhari asal Merang peraya.

Walid sempat tidak percaya diri pada awalnya karena banyak murid Maulanasyekh yang lebih cakap dan hebat dibanding dirinya. Terlebih lagi tamu yang akan datang ini adalah seorang ulama caliber internasional. Seorang Alim Allamah, Muhaddits, Muarrikh, dan ahli dalam hampir semua disiplin ilmu keislaman. Ia berhusnuzhan, mungkin karena dirinya sering bolak-balik Lombok – Surabaya untuk urusan bisnis, sehingga ia dianggap sudah hafal kota Pahlawan tersebut. Namun, tentu amanah (kepercayaan) dari sang Maha Guru, yaitu Maulanasyekh sendiri tidak boleh disia-siakan. Akhirnya berangkatlah walid seorang diri ke Ibu kota Provinsi Jawa Timur itu.

Walid (TGH. M. Thahir) menceritakan kepada penulis, “Bapak pertama jumpa Abuya (Sayyid Muhammad) dirumah murid beliau, KH. Muhiddin Nur di Panda ana’an, Surabaya. Ditunjukkan oleh seorang yang bernama bin Hood. Ketika tahu kalau Bapak utusan dari Lombok, saat itu Bapak sedikit dihalangi oleh sebagian murid beliau, karena mereka sudah menyusun jadwal Abuya yang cukup padat di Jatim. Tapi bapak berusaha menerobos, bahkan hingga berdebat sampai akhirnya diterima langsung oleh Abuya.”

Baca juga :
Ulama Besar Pulau Lombok

Pernikahan Maulanasykh Yang Penuh Berkah


Respon Abuya sangat baik saat muwajahah dan setelah menyampaikan salam Maulanasyekh sambil Bapak memohon agar jadwal kunjungan ke Lombok yang sudah dijanjikan oleh beliau dapat dipenuhi dengan alas an bahwa Maulanasyekh sudah mengumumkan kepada warna NW di hampir semua madrasah. Akhirnya Abuya menyanggupi dengan syarat disipkan tiket pesawat (tujuannya demi melihat kesungguhan maksud dari penjemput), tanpa berfikir panjang, Bapak menyanggupi.”

Walid melanjutkan kisahnya, “Pagi-pagi buta sebelum jam 8 kantor Garud Airlines dibuka, bapak sudah menunggu. Alhamdulillah Bapak dapat tiket untuk 6 orang untuk keberangkatan hari itu juga. Turut mendampingi Abuya, KH. Ihya’ Ulumuddin (Pimpinan Hai’ah Ash Shofwah Malikiyyah pusat), Habib Hamid selaku pimpinan ponpes Daru Sholihin Pasuruan dan beberapa murid senior yang Bapak lupa namanya.

Mendaratlah Abuya bersama rombongan di Bandara Selaparang Lombok. Dari sana langsung bertolak ke Pancor Lombok Timur. Pancor adalah pusat organisasi NW. Abuya dan rombongan diterima di Musholla Al-Abraor dimana Maulanasyekh beserta ribuan jama’ah NW sudah menanti kedatangan Abuya. Turut menyambut saat itu Ketua Umum PBNW, Bapak Drs. H. Lalu Gede Wiresentane, Amid MDQH, TGH. Lalu M. Yusuf Hasyim, beserta seluruh masyaikh MDQH dan para asatizh di lingkungan Pondok Pesantren Darun Nadhlatain Pancor.

Dalam kesempatan tausiyah yang diterjemahkan KH. Ihya Ulumuddin – kenang Bapak, Abuya menyatakan bahwa tidak ada seorang pun ahli ilmu di kota suci Makkah, baik thullab maupun ulamanya yang tidak kenal ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Beliau adalah ulama besar yang bukan hanya milik ummat Islam sedunia. Abuya juga menganjurkan agar Thullab NW jangan takut belajar hingga ke luar negeri, namun dengan syarat tetap memegang teguh Mazhab Ahlu Sunnah. Ambil ilmu seluas-luasnya, tapi jangan lupa pada aqidah yang diajarkan guru besar NW, Syekh Zainuddin Abdul Madjid.

Walid pun ingat, bahwa di antara yang turut menyimak tausiyah Abuya pada saat itu adalah salah seorang cucu Maulanasyekh yang duduknya tidak terlalu jauh dengan Abuya seraya memperkenalkannya, “Abuya, anak ini adalah salah satu cucu dari Maulanasyekh, namanya Muhammad Zainul Majdi” Abuya saat itu tersenyum simpul seraya mendoakan kebaikan untuknya. Usinya sang cucu waktu itu 14 tahun, masih duduk di bangku Madrasah Mualimin Pancor. Kini ia menjabat Gubernur NTB selama 2 periode.


Abuya Sayyid Muhammad terkenal dengan sifat sakho’nya (dermawan). Beliau kerap memberi hadiah berupa uang atau kitab karya beliau kepada tamu atau murid-muridnya. Pada kesempatan kunjungan waktu itu, padahal kedudukan beliau sebagai tamu, beliau memberikan bantuan Rp. 5 juta kepada Maulanasyekh untuk kepentingan NW. lantaran gembiranya Maulanasyekh menerima sumbangan (hadiah), beliau memperlihatkan hadiah itu kepada murid-murid dan keluarganya, “No gitak, mauk aku hadiah lekan bijen gurungku” (lihat, ini saya dapat hadiah dari putra guruku)

Menjelang kembali, abuya diajak keliling ke rumah-rumah beliau, baik yang di Bermi maupun di Toko kita. Abuya diajak juga ziarah ke Masjid Pancor. Setelah itu Abuya menjanjikan sumbangan untuk masjid, dan nantinya benar-benar dipenuhinya. Pada kesempatan di mana walid mengantar Abuya kembali ke Surabaya, uang sumbangan itu dititip melalui walid. Uang itu walid serahkan kepada Maulanasyekh. Pada kesempatan itu Maulanasyekh berujar, “Kalau sumbangan ini dititip melalui orang lain, uang ini bisa jadi berkurang” langsung dihari itu juga Maulanasyekh memanggil pengurus masjid untuk menerima sumbangan Abuya. Abuya juga menitipkan kepada walid 40 kitab lebih karangan beliau sebagai “Hadiah tanda cinta” untuk Maulanasyekh. Masing-masing judul sejumlah 5 eksemplar.

Kunjungan Abuya pada tahun itu merupakan kunjungan pertama dan terakhir. Beliau tidak sempat lagi mengunjungi pulau Lombok. Semoga ke depan, ada keturunan atau kerabat dari Abuya yang melanjutkan jalinan silaturrahim itu kembali. Demikian harapan walid dan kita semua.

Bapak Maulanasyekh sendiri menuturkan bahwa dirinya adalah murid Sayyid Alawi, walid dari Abuya. Sayyid Alawi selalu meminta doa kepada hadirin di majelis untuk anak-anaknya. Sehingga dengan izin Allah banyak dari dzurriyatnya menjadi ulama dan da’i. demikian pula dengan Bapak Maulanasyekh, tradisi itu ditirunya. B
Share:

Baru terungkap Karamah TGKH M Zainuddin yang di Riwayatkan kH Mas'hum Ahmad kyayi besar NU ( Nahdlatul ulama ) | cinta nw

Karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke Lombok.

Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.


“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti. Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M, itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.


Kewafatan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Akhir tahun 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa 21 Oktober 1997 M/18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah, sang ulama kharismatis, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur.

Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang Islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik umat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.

Wallahua'lam


Dan masih banyak karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang lainnya yang belum kami tulis di sini.

Share:

Pernikahan TGKH M Zainuddin abdul majid | cinta NW

Karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke Lombok.

Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.


“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti. Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M, itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.


Kewafatan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Akhir tahun 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa 21 Oktober 1997 M/18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah, sang ulama kharismatis, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur.

Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang Islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik umat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.

Wallahua'lam


Dan masih banyak karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang lainnya yang belum kami tulis di sini.

Share:

Otobiografi Ulama Besar Lombok | cinta Nw

Sebuah otobiografi seorang ulama besar Lombok, pejuang kemerdekaan Indonesia dan pendiri Nahdlatul Wathan.
Kelahiran Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddi Abdul Majid dilahirkan di Kampung Bermi Pancor Lombok Timur pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 1315 H. Nama kecil beliau adalah Muhammad Saqqaf dan berganti nama menjadi Muhammad Zainuddin setelah menunaikan ibadah haji. Yang mengganti nama beliau adalah ayahandanya sendiri, yaitu Tuan Guru KH. Abdul Majid.  Nama itu diambil dari mana seorang ulama besar, guru di Masjidil Haram, yang akhlak dan kepribadiannya sangat menarik hati sang ayah, yaitu Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak.

Penamaan Muhammad Saggaf memiliki cerita yang cukup unik. Tiga hari menjelang kelahirannya, ayahnya didatangi oleh dua orang wali yang berasal dari Hadhramaut dan Maghrabi. Kedua wali tersebut mempunyai nama yang sama, yakni Saqqaf. Keduanya berpesan kepada Tuan Guru KH. Abdul Majid, jika mempunyai anak agar diberi nama Saqqaf seperti nama mereka berdua.


Kata Saqqaf dalam bahasa Arab berarti membuat atap atau mengatapi. Kata ini kemudian diIndonesiakan menjaddi Saggaf dan dikarenakan berada di daerah Lombok Nusa Tenggar Barat yang masih kental dengan budaya daerahnya sehingga nama tersebut didialekkan ke dalam bahasa daerah yang biasa disebut bahasa sasak menjadi Segep, dan pada masa kecilnya pun beliau kerap dipanggil dengan panggilan Gep.

Baca juga : PERNIKAHAN TGKH M ZAINUDDIN YANG SANGAT SEDERHANA

Disamping  itu, terdapat keunikan lain seputar kelahirannya, yaitu adanya cerita gembira yang dibawa oleh seorang wali, bernama Syaikh Ahmad Rifa’i yang juga berasal dari Maghrabi. Ia menemui Tuan Guru KH. Abdul Majid menjelang kelahiran putranya. Syaikh Ahmad Rifa’i berkata kepada Tuan Guru KH. Abdul Majid: “Akan segera lahir dari istrimu seorang anak laki-laki yang akan menjadi ulama besar.”

Dengan adanya keunikan-keunikan yang terjadi menjelang kelahiran putranya yang kemudian dinamakan Muhammad Saggaf, Tuan Guru KH. Abdul Majid dan istrinya merasa senang dan gembira karena kelahiran puteranya disambut dan dinantikan oleh para ulama dan para wali-wali Allah.


 Ayah Ibu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Beliau adalah anak bungsu yang lahir dari perkawinan antara Tuan Guru KH. Abdul Majid dengan seorang wanita shalihah yang berasal dari desa Kelayu Lombok Timur, yang bernama Inaq Syam dan lebih dikenal dengan nama Hajjah Halimatus Sa’diyah.

Beliau memiliki saudara kandung sebanyak lima orang, diantaranya yaitu Siti Syarbini, Siti Chilah, Hajjah Saudah, Haji Muhammad Shabur dan Hajjah Masyithah.

Sejak kecil beliau terkenal sangat jujur dan cerdas. Kerena itu, tidak mengherankan kalau ayah bundanya memberikan perhatian khusus dan menumpahkan kecintaan serta kasih sayang demikian besar kepada beliau.

Tentang silsilah keturunan beliau yang lengkap tidak dapat dikemukakan secara utuh dikarenakan dokumen dan catatan silsilah keturunan beliau ikut terbakar ketika rumah orangtua  beliau mengalami kebakaran. Namun yang jelas beliau terlahir dari keturunan keluarga yang terpandang dan garis keturunan terpandang pula yaitu keturunan Selaparang. Selaparang adalah nama Kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Pulau Lombok.





Share:

pernah berkunjung ke tanjung Ringgit ? ini fakta sejarah Tanjung Ringgit Lombok Punya Cerita | Cinta NTB


Indonesia kaya akan nilai historis dan peninggalan – peninggalan bersejarah. Mulai dari bangunan – bangunan kuno, bukti – bukti tertulis berupa kitab – kitab kuno dan lain sebagainya. Khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lombok Timur terdapat berbagai macampeninggalan sejarah baik berupa situs, bangunan, tulisan dan lainnya. Seperti di Labuhan Haji, Selaparang, Tanjung Ringgit, Sugian dan banyak lagi lokasi lain yang belum diketahui nilai historisnya. Akan tetapi timbul berbagai masalah dalam pelestarian dan perawatannya. Mulai dari kesadaran masyarakat yang kurang berpartisipasi dalam merawat peninggalan sejarah dan juga faktor alam yang mengakibatkan korosi pada bagian situs.

Alasan kami memilih objek penelitian di Tanjung Ringgit karena dahulu lokasi tersebut sempat digunakan oleh Jepang sebagai tempat pemantau serangan sekaligus mobilisasi pasukan. Jika dilihat dari peta eloktronik Wilayah Tanjung Ringgit berada pada 116°34’0 detik BT - 8°53’2 detik LS. Jika kita melihat dari segi geo strategis tempat ini sangatlah cocok untuk menghalau serangan musuh yang datang dari sekutu khususnya  Australia. Sehingga banyak kita temukan sampai sekarang sisa–sisa bangunan dan peralatan Jepang seperti Meriam sebagai persenjataan berat yang digunakam untuk mengahalau serangan musuh, parit–parit sebagai tempat persembunyian sekaligus  pengintaian, Gua, perkantoran bawah tanah dan lain-lain. Hal inilah yang menjadi tujuan kami dalam mengkaji lebih jauh tentang keberadaan benda–benda bersejarah guna melihat sejauh mana fungsi .
Keadaan alam di sekitar situs meriam berada pada daerah ketinggian dan langsung berhadapan dengan pantai. Terlihat juga tanah disekelilingnya sebagian besar berbentuk kapur dengan intensitas hujan yang sangat kurang atau bisa dikatakan termasuk daerah kering.

Jika kita melihat kondisi fisiknya sebagian besar sudah rusak parah bahkan ada yang hanya menyiskan puing – puing bangunan saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi pertama yaitu faktor ekonomi. Karena alam Tanjung Ringgit yang dipenuhi oleh batu kapur membuat masyarakat sekitar melakukan penggalian di sekitar areal kawasan. Apalagi setelah diketahui bahwa kualitas batu kapur di wilayah ini adalah kualitas nomer satu. Ditambah dengan kondisi perekonomian saat ini yang tidak menentu menyebabkan segala cara dan upaya dilakukan guna menghidupi kebutuhan hidupnya sehari-hari yakni dengan melakuakan penggalian material kapur sehingga tidak jarang menimbulkan longsoran di lorong gua.
Faktor kedua yaitu faktor alam. Kurang terawatnya peninggalan – peninggalan ini membuat benda kuno seperti meriam terjadi pengakaratan atau korosi. Bahkan perlengkapan atau asesoris seperti baut, mur dan lainnya sudah lapuk akibat cuaca yang tidak menentu. Namun kini pemerintah Kabupaten telah melakukan pembenahan mulai dari pemugaran kantor, perbaikan di sekitar situs meriam, perawatan gua, perbaikan sarana dan prasarana menuju lokasi dan lain-lain.


Meriam
Meriam adalah salah satu senjata yang dikategorikan senjata berat yang digunakan sebagai alat perang. Khususnya meriam yang terdapat di Tanjung Ringgit, peralatan ini dipakai untuk menyerang musuh yang datang dari sekitar pantai. Sehingga jika kita perhatikan sekarang meriam tersebut menghadap utara ke selatan dan langsung berhadapan dengan pantai.
Akan tetapi sekarang keaslian meriam sudah tidak bisa ditemukan lagi karena telah terjadi pemotongan pada bagian ujung meriam sehingga kami tidak bisa mengetahui ukuran panjang asli dari benda tersebut. Selain itu banyak dari bagian situs yang sudah hilang karena tidak terawat dan faktor kejahilan manusia seperti baut, mur, bagian samping meriam dan lainnya.
Jika kita menilai deri segi strategis, penempatan senjata ini sangatlah cocok karena seperti yang dikatakan sebelumnya tepatnya berada di ketinggian dan langsung berhadapan dengan pentai sehingga mudah mengahalau musuh yang mengadakan pergerakan disekitar pantai. Selain jarak dengan lubang amunisi yang tidak terlalu jauh dari meriam sehingga proses pengisian ulang peluru lebih mudah. Lubang amunisi ini berada di bagian belakang meriam dan samping kanan meriam, yang kini kedua lubang amunisi ini sudah tertutup oleh longsoran tanah.

Meriam yang masih bisa ditemukan sekarang hanya satu buah dan yang lainnya lagi hanya meninggalkan pondasinya saja. Adapun ukuran yang kami dapatkan pada benda ini yakni memiliki panjang 472 cm, diameter lingkaran bawah 150 cm, diameter lingkaran atas 92 cm, lubang tempat menaruh peluru panjangnya 40 cm dan lebar 24 cm. Perisai meriam mengahadap ke arah utara ke selatan. Anak meriam yang berada di samping induk meriam memiliki panjang 156 cm. Diameter penopang meriam 123 cm dan diameter pondasi meriam 226 cm.
Selain itu terdapat lubang amunisi yang terdapat di belakang dan samping kanan gua yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 175 cm, tinggi 140 cm. Jarak meriam dengan lubang amunisi pertama yaitu 267 cm dan dengan lubang amunisi kedua yaitu 460 cm. Sedangkan jarak dari lubang amunisi satu dan kedua adalah 633 cm. Dibagian selatan dari meriam terdapat bangker. Dan memiliki dua lubang dengan ukuran sebagai berikut : panjang 135 cm, lebar 172 cm dan tinggi 160 cm.


Dibagian bangker terdapat parit yang berkelok – kelok dengan panjang keseluruhan 14925 cm, lebarnya 180 cm dan parit kedua yang ada di bagian belakang meriam yang menuju bagian barat pantai memiliki panjang 15705 cm. Pada parit pertama terdapat tempat persembunyian dan memiliki dua lubang. Lubang pertama memiliki lebar 74 cm dan panjang 75 cm serta lubang kedua dengan lebar 160 cm dan panjang 2.30 cm. Jarak dari lubang satu ke lubang dua yaitu 614 cm.
Bangker dan parit pengintaian
Bangker merupakan suatu bangunan yang sengaja dibuat sebagai tempat untuk mengatur strategi perang. Jarak antara bangker dengan meriam yaitu 53.46 cm. Di bagian bangker ini juga terdapat sebuah meriam, akan tetapi sudah rudah rusak sehingga yang tersisa hanya pondasi dasar meriam saja yang kini telah dipindahkan ke utara bangker. Di Bangker ini terdapat dua ruangan / lubang yang terbuat dari semen dengan lebar = 1.72 cm, panjang=1.60 cm, dan tinggi=1.35 cm.


Gua

Gua pada umumnya dijadikan sebagai tempat persembunyian sekaligus perlindungan dari musuh. Gua ini berbentuk seperti lorong setengah lingkaran dengan dinding keras berbentuk batu berkapur yang dahulu dibuat oleh para Romusha dengan menggunakan linggis atau alat lainnya. Romusha adalah para pekerja yang sengaja dijadikan sebagai babu dalam memenuhi kebutuhan Jepang pada saat itu. Salah satu kebutuhan Jepang yaitu gua. Hingga jika kita menarik hipotesis berapa banyak korban yang bergelimpangan dalam kegiatan tersebut.
Dilihat dari bentuk gua yang bervariasi yaitu dari segi ukuran, panjang, diameter dan lainnya, akan tetapi terdapat kesamaan antara gua – gua tersebut yaitu terdapatnya parit pertahanan. Parit pertahanan dibuat dari tumpukan batu yang dibentuk sedemikian rupa dan membujur dari kanan sampai kiri mulut gua. Parit ini dibangun guna menahan serangan musuh sekaligus dijadikan sebagai tempat mengintai musuh.
Gua pertama dengan panjang mencapai 2430 memiliki satu anak cabang buntu, dan terdapat pula jalan rahasia ke tempat penyimpanan senjata. Dari sekian banyak gua yang tersebar di wilayah Tangsi, ditemukan masih banyak yang belum jadi. Diperkirakan hal itu terjadi karena Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Sehingga seiring berjalannya waktu para penjajah sedikit demi sedikit meninggalkan wilayah Indonesia. Sehingga proyek yang sedang dalam tahap pengerjaaan kemudian ditinggalkan begitu saja. Seperti dekat Gua pertama yang dibagian akhir gua terdapat jorokan ke dalam yang buntu dan tidak jauh dari arah barat gua terdapat juga gua yang buntu. Diperkirakan sebenarnya jorokan gua pertama akan menembus gua yang ada di dekatnya bagian sebelah barat. Di bagian barat gua pertama juga terdapat gua buntu yang jika direkonstruksi lebih lanjut akan berhubungan dan membentuk seperti hurup W.


Kondisi gua yang gelap dan tidak terawat menyebabkan terjadinya longsor di beberapa cabang gua. Tidak di elakkan lagi keadaan ini dijadikan sebagai tempat habitat kelelawar yang menempel di bagian langit-langit gua, bahkan tidak jarang binatang buas pun bertempat tinggal di dalam gua seperti ular, dan bintang buas lainnya.
Gua Kedua yang terdiri dari tiga lubang yang hampir menyerupai bentuk hurup W. Lubang pertama memiliki panjang 280 cm dan tembus ke barat gua kedua dengan panjang 1030. Jarak dari lubang ke dua dengan tembusan lubang pertama yaitu 425cm dan lubang ketiga yang masih buntu memiliki panjang 860 cm. Di gua kedua ini terdapat parit pertahanan dan memiliki dua buah pintu masuk dengan panjang 2417 cm. Gua ketiga dengan panjang 1570 cm dengan panjang parit pertahanan 1900 cm. Gua keempat berbentuk hurup U dengan panjang 2880 cm dan memiliki parit pertahanan dengan panjang 2500 cm.


Bak penampungan air

Bak ini digunakan sebagai wadah untukpengumpulan air. Hal ini dilakukan karena daerah Tanjung Ringgit ini merupakan daerah dengan topografi yang kering, gersang, tandus. Sehingga satu-satunya yang dijadikan sebagai sumber penghidupan khususnya berkaitan dengan air hanyalah mengandalkan pada faktor musiman saja yaitu musim penghujan. Intensitas hujan yang rendah memaksa pendudukan Jepang di Tanjung ringgit membuat suatu penampung air sehingga mempermudah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bak penampungan air ini memiliki ukuran 380x573 cm dengan kedalaman mencapai 178 cm dan mempunyai dua bilik / ruang. Penempatan bak ini tidak terlalu jauh dari gua dan perkantoran bawah tanah yang berada di sekitar lokasi.
Kantor bawah tanah
Kantor dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para petinggi Jepang dan biasanya digunakan sebagai tempat mengatur taktik atau strategi. Kantor buatan Jepang ini memiliki keunikan dari kantor-kantor lain karena bangunannya berada di bawah tanah. Menurut salah seorang yang tinggal disana mengatakan bahwa sebelum memasuki dalam kantor, kita harus melewati beberapa anak tangga kemudian menemukan dua buah pintu masuk. Di dalam kantor terdapat 12 buah anak kursi yang di buat secara permanen dari semen dan posisinya saling berhadapan, enam bauh kursi di utara dan enam buah kursi di selatan. Akan tetapi kini kita hanya bisa melihat reruntuhannya saja karena setelah 
indonesia merdeka warga masyarakat mengadakan penjarahansenjata – senjata.


 Jepang bahkan merusak bangunan – bangunan Jepang. Sehingga kini yang tertinggal hanya puing – puingnya saja.
Dari pengertian tersebut saya bisa mempresentasikan bahwa Jepang pertama kali mendarat di Ampenan, kemudian Labuhan  Haji dan Labuhan Lombok. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menguasai terlebih dahulu pusat-pusat perekonomian yang pada saat itu berada di  Ampenan, Labuan Lombok, dan Labuhan Haji.
Setelah Jepang menguasai ketiga pusat perekonomian tersebut, barulah kemudian Jepang mendarat di Tanjung Ringgit pada tahun 1942. Pada saat itulah Jepang mendirikan sebuah benteng pertahanan, satu di sebelah utara yaitu untuk mengatasi pergerakan musuh yang datang dari Labuhan Haji dan satunya lagi di sebelah selatan yaitu untuk memobilisasi musuh yang datang dari Ampenan.
       Adapun lorong-lorong gua yag di buat di daerah Tangsi tersebut dijadikan sebagai tempat pertahanan. Karena tempat ini dikelilingi oleh bukit-bukit, jadi aman untuk tempat persembunyian.








Share:

Sejarah Kerajaan Selaparang Gumi Sasak | Cinta NW

Salah satu kerajaan besar yang pernah ada di lombok adalah kerajaan Selaparang. Pada masa lampau, Kerajaan ini berpusat di Selaparang Lombok Timur. Kerajaan yang dulu pernah besar ini, pada masa kejayaannya dipimpin oleh seorang raja yang jumawa dan punya wawasan luas yaitu Prabu Rangkesari.  Kerajaan selaparang Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang.
Munculnya kerjaan-kerajaan di Lombok berawal dari expedisi Mpu Nala pada tahun 1343 di bawah perintah kerajaan Majapahit. Expedisi ini merupakan  pelaksanaan dari Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada. Setelah Mpu Nala melaksanakan tugasnya, lalu kemudian pada tahun 1352 Gajah Mada turun sendiri melanjutkan expedisinya ke Lombok.

Ekspedisi ini khususnya di  Lombok, meninggalkan bekas berupa empat kerajaan yang memiliki hubungan persaudaraan, yaitu Kerajaan Bayan di barat, Kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di tengah, dan Kerajaan Pejanggik di selatan. Tidak hanya meninggalkan jejak kerajaan besar atau kerajaan utama, tapi expedisi ini juga meninggalkan jejak kerajaan-kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong serta beberapa desa kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, dan Kentawang. Namun, setelah Majapahit runtuh, Semua keajaan ini selanjutnya menjadi wilayah/kerajaan yang bebas dan merdeka.
Kerajaan Lombok merupakan kerajaan yang terkenal dan terkemuka di antara semua kerajaan yang ada. Kerajaan ini berpusat di Labuhan Lombok. Kerajaan ini berada di teluk Lombok dengan sumber air tawar yang sangat banyak dan bagus,selain itu teluk ini sangat indah dipandang, sehingga banyak pedagang yang tertarik untuk berkunjung ke kerajaan Lombok. Kondisi ini juga yang membuat para pedagang dari berbagai kerajaan di Nusantara datang untuk berkunjung, seperti pedagang dari Sulawesi, Gresik, Palembang dan dari Banten. Ini kemudian memberikan kontribusi yang sangat menggembirakan bagi kerajaan Lombok. Sehingga kondisi ekonomi rakyatnya semakin meningkat.

Prabu Rangkeswari merupakan raja dari kerajaan Lombok. Dibawah kepemimpinannya, sang prabu membuat sebuah kebijakan besar yaitu memindahkan pusat kerajaan ke Desa Selaparang. Pemindahan pusat kerajaan ini diambil karena usul dari Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda. letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang musuh, inilah alasan pemindahan pusat kerajaan ini. Letak dan pososo kerajaan sebelumnya memang tidak menguntungkan, karena akan musuh akan mudah masuk dan menyerang lewat berbagai penjuru.

panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan, inilah suasana di pusat kerajaan yang baru ini,  Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Di belakang kerajaan, bukit-bukit dibuat menjadi area persawahan dan ditata dengan rapi bertingkat-tingkat hingga menembus hutan Lemor yang kaya akan sumber air.

Kejayaan Kerajaan Selaparang
Pemindahan pusat kerajaan membawa suasana dan kondisi membaik bagi kerajaan dan rakyatnya. Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Salah satunya adalah perkembangan kebudayaan yang kemudian banyak melahirkan manusia-manusia sebagai khazanah warisan tradisional masyarakat Lombok sampai hari ini. Dengan dipindahkannya pusat kerajaan, maka kerajaan Lombok berubah nama menjadi Kerajaan Selaparang, sebutan ini lama kelamaan menjadi sebutan akrab dikalangan kerajaan dan rakyat. Yang semakin membaik ini, membuat kerajaan selaparang semakin besar dan tangguh. Selain memperbaiki kondisi kerajaan dan rakyatnya, Selaparang juga memperkuat laskarnya, baik di darat maupun di laut.
pada tahun 1520 Kerajaan Selaparang di serang oleh kerajaan Gelgel dari Bali. Penyerangan ini berawal dari ketidaksenangan Gelgel melihat perkembangan kerajaan Selaparang yang kian pesat. Kerajaan Gelgel menganggap dirinya merupakan pewaris Majapahit. Kerajaan Gelgel mengerahkan pasukannya untuk menyerang Selaparang. Namun, kerajaan Selaparang tidak tinggal diam melihat tingkah kerajaaan Gelgel yang Sombong. Kerajaan Selaparang melawan serangan Gelgel dengan sekuagt tenaga dan serangan tersebut mampu dipatahkan dan Gelgel mengalami kegagalan. Kejayaan Selaparang kiat melejit sampai ke penjuru Nusantara.

Kerajaan Selaparang mengalami kemajuan yang kian pesat dan tambah perkasa. Tidak berhenti disitu, Kerajaan Selaparang dapat mengembangkan kekuasaannya hingga ke Sumbawa Barat. Seorang raja muda bernama Sri Dadelanatha, dilantik dengan gelar Dewa Meraja di Sumbawa Barat karena saat itu (1630 Masehi) daerah ini juga masih termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu sekitar tanggal 30 November 1648 Masehi, putera mahkota Selaparang bernama Pangeran Pemayaman dengan gelar Pemban Aji Komala, dilantik di Sumbawa menjadi Sulthan Selaparang yang memerintah seluruh wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa.
Sekitar tahu 1667-1668 Masehi, Laskar lautnya telah berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki dan menjajah wilayahnya. Sebelum terjadi peperangan laut, daerah kekuasaan kerajaan Selaparang yaitu Pulau Sumbawa mampu direbut oleh Belanda. Daerah ini lebih dulu dikuasai karena  sebelum peperangan laut itu, Sumbawa sudah ditundukkan. Mungkin akan berbeda ceritanya kalau sebelum peperangan laut, Belanda jangan coba-coba mau menguasai daerah selaparang.  Tidak hanya itu, laskar laut Selaparang juga pernah mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gelgel (Bali) dari arah barat. sekitar tahun 1616 dan 1624 Masehi, Selaparang pernah dua kali terlibat dalam pertempuran sengit melawan Kerajaan Gelgel. Kedua serangan Gelgel tersebut mampu dipatahkan sehingga banyak tentara Gelgel didi tangkap dan di tawan.


Tidak mau mengalami kekalahan lagi, kerajaan Gelgel memutar otak mengatur strategi yang cerdik untuk memerangi dan menguasai kerajaan selaparang. Akhirnya kerajaan Gelgel punya strategi yang cerdik, yaitu  memaanfaatkan situasai untuk melakukan infiltrasi dengan mengirimkan rakyatnya membuka pemukiman dan persawahan di bagian selatan sisi barat Lombok yang subur.
Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangga, yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari bagian barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Pulau Bali) secara bergelombang, dan selanjutnya mendirikan koloni di kawasan Kota Mataram sekarang ini. Kekuatan itu kemudian secara berangsur-angsur tumbuh berkembang sehingga menjelma menjadi kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri sekitar tahun 1622 Masehi. Kerajaan ini berdiri lima tahun setelah serangan laut pertama Kerajaan Gelgel dari Bali Utara atau dua tahun sebelum serangan ke dua yang dapat ditumpas oleh laskar Kerajaan Selaparang.


Belajar dari kegagalan serangan pada 1520, juga menempuh strategi baru dengan mengirim Dangkiang Nirartha untuk memasukkan faham baru berupa singkretisme Hindu-Islam.  Tidak berselang lama strategi ini dilancarkan, banyak para pimpinan agama dan tokoh masyarakat Lombok yang belum lama memeluk Islam terpengaruh. Namun di tengah perjalannya, kerajaan Gelgel mengalami stagnasi dan kelemahan dimana-mana. Kerajaan Hindu hindu menuai masalah internal yang cukup berpengaruh sehingga niat untuk menguasai Selaparang terhenti.

Runtuhnya Kerajaan Di Lombok
Setelah VOC menguasai jalur perdagangan di utara, kerajaan Gowa gusar. Karena tidak mau memberikan peluang lagi kepada Belanda, Gowa menutup jalur perdagangan ke selatan dengan cara menguasai Pulau Sumbawa dan Selaparang. Gowa juga melakukan ekspansi dan mampu menguasai Flores Barat dengan mendirikan Kerajaan Manggarai untuk membendung misi kristenisasi menuju ke barat.

Gelgel yang mulai bangkit tidak senang dengan ekspansi Gowa ini. Gowa dihadapkan pada posisi dilematis, mereka khawatir Belanda memanfaatkan Gelgel. Maka tercapai kesepakatan dengan Gelgel melalui perjanjian Saganing pada tahun 1624, yang isinya antara lain Gelgel tidak akan bekerja sama dengan Belanda dan Gowa akan melepaskan perlindungannya atas Selaparang, yang dianggap halaman belakang Gelgel.
Sepeninggal Dalem Sagining yang digantikan oleh Dalem Pemayun Anom kesepakatan tersebut mengalami perubahan, terjadi terjadi polarisasi yang semakin jelas, yakni Gowa menjalin kerjasama dengan Mataram di Jawa dalam rangka menghadapi Belanda. Sebaliknya Belanda berhasil mendekati Gelgel, sehingga pada tahun 1640, Gowa masuk kembali ke Lombok. Bahkan pada tahun 1648, salah seorang Pangeran Selaparang dari Trah Pejanggik bernama Mas Pemayan dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, diangkat sebagai raja muda, semacam gubernur mewakili Gowa, berkedudukan di bagian bara pulau Sumbawa.

Dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin Gowa melakukan perlawanan keras terhadap Belanda, perak tidak terelakkan. Hingga akhirnya pada tahun 1667, Gow harus menerima perjanjian Bungaya. Dari pertempuran anatara Gowa dan Belanda, Gelgel berusaha memanfaatkan situasi dengan mengirimkan ekspedisi langsung ke pusat pemerintahan Selaparang pada tahun 1668-1669, tetapi ekspedisi tersebut gagal. Perjanjian Bungaya adalah sebuah wilayah yang terletak disekitar pusat kerajaan Gelgel di Klungkung yang menandai eratnya hubungan Gelgel-Belanda.
Walaupun Kerajaan Selaparang mampu mengalahkan serangan kerajaan Gelgel, petani liar dari Karang Asem (Bali) yang mendirikan koloni dan menjelma sebagai sebuah kerajaan kecil, yaitu kerajaan Pagutan dan Pagesangan. Kerajaan ini muncul pada tahun 1622, embrio kekuatan ini sebenarnya sudah ada sejak permulaan abad ke 15.

Bahaya yang paling besar dan ditakuti muncul secara tiba-tiba adalah kekuatan asing, yakni Belanda. Ini merupakan ancaman utama. Ekspansi militer belanda sangat membahayakan. Akhirnya, karena terlalu fokus pada ancaman utama ini, Selaparang mengabaikan kekuatan Gelgel, karena Gelgel selalu mampu dikalahkan. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi kekuatan kerarajaan kecil tersebut, maka dibawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa,  Kerajaan Selaparang hanya menempatkan laskarnya berjumlah kecil.
Namun, di internal Kerajaan Selaparang ditengarai ada masalah yang cukup serius yaitu perbedaan pandangan antara Raja dan salah seorang tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan yang bernama Arya Banjar Getas soal posisi pasti perbatasan antara wilayah Kerajaan Selaparang dan Pejanggik.  Dari perselisihan paham tersebut, akhirnya Arya Banjar Getas beserta pengikutnya meninggalkan Selaparang bergabung dengan Kerajaan Pejanggik, Raden  Arya Banjar Getas juga mampu mengajak Kerajaan Pejanggik untuk ikut serta dan bergabung dalam ekspedisi tentara Kerajaan Mataram Karang Asem (Bali) yang sudah berhasil mendarat di Lombok Barat. Hingga pada tahun 1672 kerajaan Selaparang berhasil ditaklukkan setelah menerima ekspedisi militer Arya Banjar Getas, Pejanggik dengan pihak Kerajaan Mataram Karang Asem. Kerajaan Selaparang dapat ditaklukkan hampir tanpa perlawana, pusat kerajaan selaparang hancur rata dengan tanah, dan raja beserta seluruh keluarganya mati terbunuh.
Empat belas tahun setelah membumihanguskan Selaparang, Kerajaan  Pejanggik juga dibumihanguskan oleh Keerajaan Mataram Karang Asem pada tahun 1686. Tidak hanya kerajaan Pejanggik, kerajaan Mataram juga meluluh lanttakkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Lombok. Kerajaan Mataram menguasai seluruh penjuru Lombok.








Share:
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG PECINTA NAHDATUL WATHAN/ POKOKNYA NW / POKOK NW IMAN DAN TAQWA / cintanw.blogspot.com
SEPUTAR SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSA TENGGARA BARAT DAN NUSANTARA INDONESIA

HIMPUNAN SEJARAH

Popular Posts