Showing posts with label Loang baloq. Show all posts
Showing posts with label Loang baloq. Show all posts

Karya Maha Agung Di Pulau Seribu Masjid| Cinta NTB

Bukit Pergasingan Desa Sembalun kini telah menjadi bahan perbincangan yang ramai dikalangan para wisatawan dan para pecinta travelling. Bukit Pergasingan adalah sebuah bukit yang menjulang tinggi di samping Gunung Rinjani dan terletak juga di Desa Sembalun bagian Utara tak jauh dari Aikmel dan masih wilayah Lombok Timur. Bukit Pergasingan mempunyai pemandangan yang sangat indah dengan menampilkan keindahan dan kemegahan Gunung Rinjani secara dekat. Saat pagi hari kita juga bisa menikmati view matahari terbit dari sini. Tak hanya itu, disini kita juga bisa melihat pemandangan persawahan yang unik dan warna-warni di Sembalun.


Bukit Pergasingan memang awalnya masih belum banyak dikenal, tapi kini telah menjadi tujuan oleh para traveler yang berkunjung ke Bumi Rinjani. Bukit ini memiliki ketinggian 1.670 mdpl. Pergasingan sendiri diambil dari kata "Gasing" yang mana sejarahnya dulu bukit ini sering digunakan untuk pertandingan permainan Gasing oleh penduduk Desa Sembalun.

Bukit ini dapat didaki dari Sembalun dengan waktu pendakian normal 2 jam sampai puncak. Bukit Pergasingan ini bisa dijadikan tempat latihan kita sebelum mendaki Gunung Rinjani, bahkan sekarang bukit ini telah dimanfaatkan sebagai start extreme sport bagi pelaku olahraga paralayang, sepeda gunung dll. Disini juga adalah tempat surganya para photographer karena pemandangan dari bukit ini sungguh indah seperti lukisan.
Se
bagian besar pengunjung yang datang ke Bukit Pergasingan adalah mereka para pelajar, mahasiswa dan para pecinta alam yang memanfaatkan akhir pekan. Di sini kita juga bisa menemukan banyak jenis flora dan fauna, jadi bagi para pecinta alam dan pendaki gunung yang mendaki Gunung Rinjani, jangan lupa sempatkan diri berkunjung dan berkemah di Bukit Pergasingan Sembalun.
Tak diragukan lagi bahwa Pulau Lombok merupakan surganya wisata. Dengan destinasi yang komplit mulai dari keberagaman wisata alam baik itu pantai, gunung, bukit, adat serta wisata kuliner. Bagi semua wisatawan jangan lupa untuk berkunjung ke Pulau Lombok.

Gunung Rinjani selalu memikat para wisatawan yang berkunjung ke Lombok, NTB. Dari Bukit Pergasingan, Gunung Rinjani tampak indah sekali. Jalur pendakian ke Rinjani dahulu cuma ada dua yaitu dari Senaru dan Sembalun. Namun sekarang sudah ada beberapa jalur pendakian. Bagi yang tidak mengejar puncak gunung biasanya wisatawan naik melalui Senaru. Namun bagi wisatawan yang mengejar puncak, biasanya mereka naik dari Sembalun.

Tetapi bagi mereka yang tak sanggup naik walau sampai Segara Anak, wisatawan bisa berfoto-foto dengan latar belakang Gunung Rinjani. Bukit Pergasingan Lombok, kini muncul kepermukaan sebagai tempat wisata baru yang menjadi favorit bagi wisatawan terutama pecinta alam dan pendaki gunung, terletak di desa sembalun, bukit pergasingan merupakan sebuah bukit yang menjulang tinggi yang terletak disamping gunung rinjani. Bukit pergasingan memiliki ketinggian 1670 mdpl hanya selisih 56 meter dari gunung andong di magelang, bukit pergasingan menawarkan pemandangan kotak-kotak sawah desa sembalun yang berwarna warni, selain sawah desa sembalun, kita akan melihat gunung rinjani berdiri kokoh didepan mata, ditambah lagi sunrise di puncak bukit pergasingan juga tak kalah indah Tiba di puncak satu Bukit Pergasingan, sabana cukup luas menghampar. Dari puncak satu, Gunung Rinjani berdiri gagah menantang langit. Sebuah kolam air besar bersebelahan dengan kebun sayur terlihat dari puncak satu.

Arpini menuturkan bahwa kolam itu merupakan penampungan air untuk irigasi ladang sayur. Bukit Pergasingan yang ada di Lombok ini memang menawan. Apalagi biasanya bukit keren yang satu ini dimanfaatkan sebagai salah satu tempat pemanasan sebelum naik ke Gunung Rinjani. Atau bisa juga sebagai alternatif pendakian jika misalnya jalur pendakian Gunung Rinjani sedang ditutup. Di Bukit Pergasingan, wisatawan bisa melihat Gunung Rinjani dengan jelas dan tentunya bisa berfoto dengan latar belakang gunung tersebut. Untuk mencapai bukit tersebut dibutuhkan perjuangan yang tak mudah.

Misalkan Anda mau mengejar sunrise, Anda harus datang ke Bukit Pergasingan pagi. Nah maka dari itu, sehari sebelum ke Bukit Pergasingan, Anda harus menginap dahulu di penginapan-penginapan di daerah Sembalun. Karena dari Kota Mataram menuju Sembalun dibutuhkan waktu tempuh 4-5 jam. Dari Sembalun menuju Bukit Pergasingan, Anda bisa menempuh dengan mobil atau motor. Lalu kemudian Anda harus bersiap mendaki dan menaiki sekitar 70 anak tangga untuk mencapai spot foto atau pemandangan Rinjani pertama. Bila Anda punya waktu banyak dan cukup kuat, Anda bisa mencapai puncak dari Bukit Pergasingan.

Saya dari penginapan di Sembalun berangkat sekitar pukul 05.00 WITA dan tiba di bukit sekitar pukul 05.20 WITA. Masya Allah, setelah saya mendaki dan mencapai spot pertama saja, saya bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan. Bisa dibilang bukit pergasingan memiliki persamaan dengan gunung andong di magelang, apabila di gunung andong kita akan melihat pemandangan sawah desa sekitar dan gunung merbabu yang berdiri kokoh didepan mata.


Di bukit pergasingan kita juga bisa melihat gunung rinjani, persawahan desa sembalun dan sunrise yang tak kalah indah dari gunung Andong, kita sebut saja bukit pergasingan andong-nya lombok. Karena pendakiannya tidak terlalu lama, hanya memakan waktu sekitar 1-2 jam jadi banyak wisatawan terutama pelajar dan mahasiswa yang datang kesini untuk menghabiskan akhir pekan, selain itu lokasi wisata bukit pergasingan juga dijadikan sebagai spot paralayang dan downhill. Karena jernihnya air sungai di Bukit Pergasingan, beberapa ikan kecil pun tampak di sungai tersebut. Selain itu di bukit ini, kebersihan lingkungannya masih terjaga.

Tidak ada sampah-sampah di sekitar lokasi. Benar-benar sungguh indah pemandangan di Bukit Pergasingan. Jadi sekarang Anda tinggal tentukan sendiri. Mau naik ke Gunung Rinjani lewat jalur pendakian Senaru atau Sembalun. Atau Anda hanya mau berfoto dengan latar belakang Gunung Rinjani di Bukit Pergasingan.

Puncak Dua
Selain puncak satu, pendaki dapat menuju puncak dua yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik pemberhentian pertama. Jalur yang ditempuh cenderung landai dan melewati hutan tropis yang ditumbuhi rerumputan. Serta melintasi deretan pohon cemara gunung yang tumbuh di bukit. Setelah mendaki bukit gundul tanpa pepohonan, kanopi dari hutan cukup membuat teduh dari paparan sinar matahari. Di ujung jalur, puncak dua menghampar ditumbuhi rerumputan. “Itu ujung Pulau Lawang dan Sulat. Gili Lawang dan Sulat-nya bagus. Kalau tidak berkabut bisa lihat laut,” kata Arpini yang juga pemandu pendakian Gunung Rinjani. Pendakian Bukit Pergasingan dapat ditempuh dalam dua hari satu malam perjalanan. Idealnya para pendaki mengejar matahari terbit di ufuk timur yang langsung muncul dari arah laut.

Pendakian umumnya dimulai ketika dini hari pukul 02.00 WITA dan tiba sebelum fajar menyingsing. Untuk perizinan dan pemandu pendakian, pendaki dapat menghubungi komunitas lokal yaitu Pusat Pengembangan Masyarakat Sembalun.


Share:

Riwayat Karamah Tanda Cinta Sayyid Muhammad bin Alawi kepada Maulanasyikh M Zainuddin Lombok "Gubernur NTB umur 14 tahun "| Cinta NW

Awal juli tahun 1986 silam, seorang ulama besar Kota Makkah yang masyhur di Dunia internasional, Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki melakukan safari dakwah ke Indonesia. Beliau memang memiliki banyak murid di tanah air. Termasuk murid dari pada walid beliau, Sayyid Alawi Al-Maliki. Satu diantara murid dari walid beliau adalah, Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Pendiri organisasi massa terbesar di Nusa Tenggara Barat yaitu Nadhaltul Wathan (NW).

Abuya – biasanya Sayyid Muhammad bin Alawi dipanggil oleh para muridnya – pada safari kali ini berkomitmen berkunjung ke Lombok untuk menemui Maulana Syekh. Mendengar kabar bahwa Abuya sudah berada di Surabaya, Maulanasyekh mengutus salah seorang muridnya sebagai duta untuk “menagih” komitmen Abuya. Murid itu adalah TGH. Muhammad Thahir Azhari asal Merang peraya.

Walid sempat tidak percaya diri pada awalnya karena banyak murid Maulanasyekh yang lebih cakap dan hebat dibanding dirinya. Terlebih lagi tamu yang akan datang ini adalah seorang ulama caliber internasional. Seorang Alim Allamah, Muhaddits, Muarrikh, dan ahli dalam hampir semua disiplin ilmu keislaman. Ia berhusnuzhan, mungkin karena dirinya sering bolak-balik Lombok – Surabaya untuk urusan bisnis, sehingga ia dianggap sudah hafal kota Pahlawan tersebut. Namun, tentu amanah (kepercayaan) dari sang Maha Guru, yaitu Maulanasyekh sendiri tidak boleh disia-siakan. Akhirnya berangkatlah walid seorang diri ke Ibu kota Provinsi Jawa Timur itu.

Walid (TGH. M. Thahir) menceritakan kepada penulis, “Bapak pertama jumpa Abuya (Sayyid Muhammad) dirumah murid beliau, KH. Muhiddin Nur di Panda ana’an, Surabaya. Ditunjukkan oleh seorang yang bernama bin Hood. Ketika tahu kalau Bapak utusan dari Lombok, saat itu Bapak sedikit dihalangi oleh sebagian murid beliau, karena mereka sudah menyusun jadwal Abuya yang cukup padat di Jatim. Tapi bapak berusaha menerobos, bahkan hingga berdebat sampai akhirnya diterima langsung oleh Abuya.”

Baca juga :
Ulama Besar Pulau Lombok

Pernikahan Maulanasykh Yang Penuh Berkah


Respon Abuya sangat baik saat muwajahah dan setelah menyampaikan salam Maulanasyekh sambil Bapak memohon agar jadwal kunjungan ke Lombok yang sudah dijanjikan oleh beliau dapat dipenuhi dengan alas an bahwa Maulanasyekh sudah mengumumkan kepada warna NW di hampir semua madrasah. Akhirnya Abuya menyanggupi dengan syarat disipkan tiket pesawat (tujuannya demi melihat kesungguhan maksud dari penjemput), tanpa berfikir panjang, Bapak menyanggupi.”

Walid melanjutkan kisahnya, “Pagi-pagi buta sebelum jam 8 kantor Garud Airlines dibuka, bapak sudah menunggu. Alhamdulillah Bapak dapat tiket untuk 6 orang untuk keberangkatan hari itu juga. Turut mendampingi Abuya, KH. Ihya’ Ulumuddin (Pimpinan Hai’ah Ash Shofwah Malikiyyah pusat), Habib Hamid selaku pimpinan ponpes Daru Sholihin Pasuruan dan beberapa murid senior yang Bapak lupa namanya.

Mendaratlah Abuya bersama rombongan di Bandara Selaparang Lombok. Dari sana langsung bertolak ke Pancor Lombok Timur. Pancor adalah pusat organisasi NW. Abuya dan rombongan diterima di Musholla Al-Abraor dimana Maulanasyekh beserta ribuan jama’ah NW sudah menanti kedatangan Abuya. Turut menyambut saat itu Ketua Umum PBNW, Bapak Drs. H. Lalu Gede Wiresentane, Amid MDQH, TGH. Lalu M. Yusuf Hasyim, beserta seluruh masyaikh MDQH dan para asatizh di lingkungan Pondok Pesantren Darun Nadhlatain Pancor.

Dalam kesempatan tausiyah yang diterjemahkan KH. Ihya Ulumuddin – kenang Bapak, Abuya menyatakan bahwa tidak ada seorang pun ahli ilmu di kota suci Makkah, baik thullab maupun ulamanya yang tidak kenal ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Beliau adalah ulama besar yang bukan hanya milik ummat Islam sedunia. Abuya juga menganjurkan agar Thullab NW jangan takut belajar hingga ke luar negeri, namun dengan syarat tetap memegang teguh Mazhab Ahlu Sunnah. Ambil ilmu seluas-luasnya, tapi jangan lupa pada aqidah yang diajarkan guru besar NW, Syekh Zainuddin Abdul Madjid.

Walid pun ingat, bahwa di antara yang turut menyimak tausiyah Abuya pada saat itu adalah salah seorang cucu Maulanasyekh yang duduknya tidak terlalu jauh dengan Abuya seraya memperkenalkannya, “Abuya, anak ini adalah salah satu cucu dari Maulanasyekh, namanya Muhammad Zainul Majdi” Abuya saat itu tersenyum simpul seraya mendoakan kebaikan untuknya. Usinya sang cucu waktu itu 14 tahun, masih duduk di bangku Madrasah Mualimin Pancor. Kini ia menjabat Gubernur NTB selama 2 periode.


Abuya Sayyid Muhammad terkenal dengan sifat sakho’nya (dermawan). Beliau kerap memberi hadiah berupa uang atau kitab karya beliau kepada tamu atau murid-muridnya. Pada kesempatan kunjungan waktu itu, padahal kedudukan beliau sebagai tamu, beliau memberikan bantuan Rp. 5 juta kepada Maulanasyekh untuk kepentingan NW. lantaran gembiranya Maulanasyekh menerima sumbangan (hadiah), beliau memperlihatkan hadiah itu kepada murid-murid dan keluarganya, “No gitak, mauk aku hadiah lekan bijen gurungku” (lihat, ini saya dapat hadiah dari putra guruku)

Menjelang kembali, abuya diajak keliling ke rumah-rumah beliau, baik yang di Bermi maupun di Toko kita. Abuya diajak juga ziarah ke Masjid Pancor. Setelah itu Abuya menjanjikan sumbangan untuk masjid, dan nantinya benar-benar dipenuhinya. Pada kesempatan di mana walid mengantar Abuya kembali ke Surabaya, uang sumbangan itu dititip melalui walid. Uang itu walid serahkan kepada Maulanasyekh. Pada kesempatan itu Maulanasyekh berujar, “Kalau sumbangan ini dititip melalui orang lain, uang ini bisa jadi berkurang” langsung dihari itu juga Maulanasyekh memanggil pengurus masjid untuk menerima sumbangan Abuya. Abuya juga menitipkan kepada walid 40 kitab lebih karangan beliau sebagai “Hadiah tanda cinta” untuk Maulanasyekh. Masing-masing judul sejumlah 5 eksemplar.

Kunjungan Abuya pada tahun itu merupakan kunjungan pertama dan terakhir. Beliau tidak sempat lagi mengunjungi pulau Lombok. Semoga ke depan, ada keturunan atau kerabat dari Abuya yang melanjutkan jalinan silaturrahim itu kembali. Demikian harapan walid dan kita semua.

Bapak Maulanasyekh sendiri menuturkan bahwa dirinya adalah murid Sayyid Alawi, walid dari Abuya. Sayyid Alawi selalu meminta doa kepada hadirin di majelis untuk anak-anaknya. Sehingga dengan izin Allah banyak dari dzurriyatnya menjadi ulama dan da’i. demikian pula dengan Bapak Maulanasyekh, tradisi itu ditirunya. B
Share:

Pola belajar Maulanasykh Zainuddin Abdul Majid yang sulit di Tiru Sahabat Sahabatnya Diriwayatkan oleh sahabatnya seorang seykh di Jawa| Cinta NW

click untuk perbesar
  Pendidikan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Perjalanan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam menuntut ilmu pengetahuan diawali dengan pendidikan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Beliau belajar mengaji membaca al-Quran dan berbagai ilmu agama lainnya kepada ayahandanya sendiri, Tuan Guru KH. Abdul Majid.

Pendidikan yang diberikan oleh ayahnya tersebut dimulai semenjak beliau berusia 5 tahun dan kemudian memasuki pendidikan formal semenjak berusia 9 tahun. Sekolah formal yang beliau mesuki adalah sekolah umum yang pada saat itu disebut dengan Sekolah Rakyat Negara (Sekolah Gubernemen) di Selong Lombok Timur. Di sekolah tersebut beliau belajar selama 4 tahun hingga tahun 1919 M.

Setelah menamatkan pendidikan formalnya pada Sekolah Rakyat Negara pada tahun 1919 M, ia kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk belajar ilmu pengetahuan agama yang lebih luas lagi pada beberapa kyai lokal saat itu, antara lain Tuan Guru KH. Syarafuddin dan Tuan Guru KH. Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru KH. Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur. Dari beberapa kyai ini, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin selain mempelajari ilmu-ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Arab Melayu, juga secara khusus mempelajari ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab, seperti ilmu nahwu dan sharaf.

Pola pengajaran yang dilakukan oleh kyai-kyai lokal ini masih bersifat klasik, yaitu masih menggunakan sistem halaqoh, yang dalam pembelajarannya murid-murid duduk bersila dan sang guru memberi pengajaran dengan membacakan kitab yang dipelajari kemudian para murid masing-masing membacanya saling bergantian satu persatu.

Bagi Tuan Guru KH. Syarafuddin, Muhammad Saggaf merupakan murid yang istimewa. Keistimewaan tersebut mendorong gurunya untuk membebaskannya dari membanntu gurunya bekerja di sawah. Pada saat itu murid-murid yang mengaji di rumah seorang tuan guru tidak dipungut bayaran. Sebagai gantinya, mereka dihariskan berkerja di sawah tuan guru tersebut.

Berbeda dengan Muhammad Saggaf, karena keinginan kuat ayahnya agar ia menjadi murid yang pandai, ayahnya sanggup dengan membayar dengan 200 ikat padi setahun (sekitar 2 ton padi atau gabah), sebagai ganti kewajiban bekerja di sawah. Maksud ayahnya dengan kesediaan ini adalah agar anaknya tidak terganggu aktivitas belajarnya sehingga ia berkonsentrasi pada pelajarannya.

 Belajar ke Tanah Suci Makkah

Menjelang musim haji pada saat itu sekitar tahun 1923 M, Muhammad Saggaf yang pada saat itu tengah berusia 15 tahun, berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan studinya, memperdalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan islam dengan diantar langsung oleh kedua orangtuanya bersama adiknya, yaitu Muhammad Faishal dan Ahmad Rifa’i serta seorang kemenakannya.

Bahkan pada saat itu salah seorang gurunya ikut serta dalam rombangan itu, yaitu Tuan Guru KH. Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya.

Beliau belajar di Tanah Suci Makkah selama 12 tahun. Di kota suci itu beliau mula-mula belajar di Masjidil Haram. Ayahnya sangat selektif dalam mencarikan dan menentukan seorang guru yang akan mengajar dan mendidik putra kesayangannya itu. Ayahandanya meyakini bahwa seorang guru adalah sumber ilmu dan kebenaran serta menjadi contoh dan panutan bagi muridnya dalam segala aspek kehidupan baik dalam pola berfikir dan berperilaku, sehingga ilmu dan didikan yang diperoleh sang murid berguna dan bermanfaat bagi kehidupan baik di dunia dan di akhirat.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ayahnya sibuk mencarikannya seorang guru yang tepat dan cocok untuk mengajari dan mendidik anaknya. Kemudian bertemulah ayahnya dengan seorang syaikh yang belakangan dikenal dengan Syaikh Marzuki. Dari cara dan metode yang digunakan dalam mengajar, Tuan Guru KH. Abdul Majid merasa cocok jika syaikh tersebut menjadi guru bagi anaknya.

Syaikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ia sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Arab. Kebanyakan muridnya berasal dari Indonesia. Ada yang berasal dari Palembang, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Lombok.

Salah seorang murid Syaikh Marzuki yang berasal dari Lombok bernama H. Abdul Kadir dari desa Mamben Lombok Timur. H. Abdul Kadir sudah setahun lebih belajar di Makkah pada waktu itu.

Namun pada akhirnya Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid merasakan ketidakcocokan terhadap Syaikh Marzuki karena dirasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti dalam menuntut ilmu. Karena pada saat itu sang guru mengajarkan kitab gundul yang tidak memiliki baris sedangkan beliau masih murid baru dan dapat dikatakan masih awam dalam mempelajari kitab-kitab gundul yang tidak memiliki baris tersebut, sehigga beliau berfikiran ingin memulai pelajarannya dari awal agar mampu membaca dan memahami makna yang terkandung dalam kitab gundul tersebut. Setelah ayahnya pulang ke Lombok beliau langsung berhenti belajar mengaji pada Syaikh Marzuki.


Pada hari pertama beliau masuk di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah beliau bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang hubungannya paling dekat.Di sana juga ia bertemu as-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajar syair pada as-Sayyid Amin al-Kutbi, yang ternyata juga sebagai salah seorang guru di Madrasah ash-Shaulatiyah.

Sudah menjadi tradisi di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah bahwa setiap murid baru yang masuk harus mengikuti tes untuk menentukan kelas yang tepat dan cocok untuk murid baru tersebut. Demikian juga halnya dengan Muhammad Zainuddin, beliau juga diuji terlebih dahulu. Beliau diuji langsung oleh Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.


Akhirnya Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath menentukan ia masuk di kelas III. Padahal beliau belum terlalu menguasai ilmu nahwu dan sharaf yang diajarkan di kelas II. Mendengar keputusan tersebut, kemudian beliau meminta untuk diperkenankan masuk di kelas II, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran nahwu dan sharaf. Walaupun pada awalnya Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath bersikeras dengan keputusannya, namun argumentasi yang dikemukakan oleh Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir kembali. Kemudian Syaikh Hasan pun mengabulkan permohonannya, dan resmilah beliau diterima di kelas II.

Di Madrasah ash-Shaulatiyah ini, Muhammad Zainuddin mulai tekun belajar. Ia ingin membuktikan kemampuannya menguasai ilmu dengan baik. Di malam dan sore hari beliau belajar kepada beberapa guru yang lain.Di rumah juga beliau manghabiskan waktunya untuk belajar. Salah satu bentuk ketekunannya dalam belajar adalah besarnya porsi waktu yang disediakan untuk membaca kitab-kitab mulai dari setelah shalat Tahajjud sampai waktu shalat Shubuh tiba.

Pernah suatu ketika beliau tertidur pada saat membaca kitab, padahal di hadapannya terdapat sebuah lampu minyak sebagai alat penerang beliau dalam membaca. Tanpa beliau sadari sorbannya terlalap api dari lampu minyak tersebut dan terbakar. Mencium bau benda terbakar, ibunya pun terbangun, sementra beliau masih tertidur dengan lelapnya. Kemudian ibunya pun berteriak membangunkannya. Beliaupun terkejut dan terbangun.

Kebiasaan beliau membaca dan belajar dalam waktu yang cukup lama menyebabkan mata beliau mengalami gangguan. Meskipun demikian beliau masih tetap mampu mempertahankan kebiasaan membaca dan belajarnya tersebut sampai waktu yang cukup lama.Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya mengakui bahwa beliau tergolong murid yang cerdas. Syaikh Salim Rahmatullah sebagai kepala Madrasah ash-Shaulatiyah selalu mempercayakan beliau untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah Saudi yang sering kali datang ke madrasah itu. Penilik madrasah itu menganut faham Wahabi. Dan beliaulah satu-satunya murid Madrasah ash-Shaulatiyah yang dianggap menguasai faham Wahabi.

Pertanyaan penilik itu biasanya menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada anbiya’ dan auliya’, bernadzar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan beliau selalu berhasil menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan.

Prestasi akademiknya sangat membanggakan, ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Disamping itu, dengan kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun. Padahal waktu belajar normal adalah 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik ke kelas VII,VIII dan IX.Sahabat sekelas Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin bernama Syaikh Zakaria Abdullah Bila, mengakui kejeniusannya dan mengatakan: “Syaikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kejeniusannya yang tinggi dan luar biasa dan saya sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, dan kawan sekelasku dan saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi pada waktu saya bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah.”

Predikat istimewa ini disertai pula dengan perlakuan istimewa dari Madrasah ash-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis langsung oleh ahli khat terkenal di Makkah, yaitu al-Khathath asy-Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari direktur Madrasah ash-Shaulatiyah. Prestasi istimewa itu memerlukan pengorbanan, ibu yang selalu mendampingi selama belajar di Madrasah ash-Shaulatiyah berpulang ke rahmatullah di Mekah.Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan studinya di Madrasah ash-Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzul Hijjah tahun 1353 H dengan predikat “mumtaz” (Summa Cumlaude).

Setelah tamat dari Madrasah ash-Shaulatiyah, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin tidak langsung pulang ke Lombok, tetapi bermukim lagi di Makkah selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu dimanfaatkan untuk belajar antara lain belajar ilmu fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani. Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh selama di Tanah Suci Makkah adalah 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Ini berarti selama di Mekah sempat mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.

Para guru yang mengajarkan al-Quran dan kitab Melayu di Lombok diantaranya adalah:
Tuan Guru KH. Abdul Majid
Tuan Guru KH. Syarafuddin Pancor Lombok Timur
Tuan Guru KH. Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur.
Adapun para guru beliau di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah adalah:
Asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath
Asy-Syaikh Umar Bajunaid asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Muhammad Said al-Yamani asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Ali al-Maliki
Asy-Syaikh Marzuqi al-Palimbani
Asy-Syaikh Abubakar al-Palimbani
Asy-Syaikh Hasan Jambi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Mandili asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Mukhtar Betawi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Umar Hamdan al-Mihrasi al-Maliki
Asy-Syaikh Abdussattar ash-Shiddiqi Abdul Wahab al-Kutbi al-Maliki;
Al-‘Allamah al-Kabir al-Syeikh
Asy-Syaikh Abdul Qadir asy-Syibli al-Hanafi
Asy-Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi
As-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Khalifah al-Maliki
Asy-Syaikh Jamal al-Maliki
Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Kalantani asy-Syafi’i
 Asy-Syaikh Mukhtar al-Makhdumi al-Hanafi
Asy-Syaikh Salim Cianjur asy-Syafi’i
As-Syayid Ahmad Dahlan Shadaqi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Salim Rahmatullah al-Maliki
Asy-Syaikh Abdul Gani al-Maliki
As-Syayid Muhammad Arabi at-Tubani al-Jazairi al-Maliki
Asy-Syaikh Umar al-Faruqi al-Maliki
Asy-Syaikh Abdullah al-Farisi
Asy-Syaikh Malla Musa.


Jika diklasifikasikan guru-gurunya berdasarkan latar belakang madzhab yang berbeda, maka akan terlihat kategorisasi madzhab sebagai berikut: 11 orang bermadzhab Syafi’i, 6 orang bermadzhab Hanafi dan 11 orang bermadzhab Maliki.

Berdasarkan kategorisasi madzhab di atas terlihat jelas bahwa semua guru-guru beliau masih berada dalam satu landasan teologi yang sama, yakni faham Ahlussunnah wal Jama’ah. Dengan kata lain, bahwa tidak ada seorang pun gurunya yang menganut faham teologi yang berbeda, seperti Mu’tazilah, Syi’ah ataupun Wahabi.


Share:

Baru terungkap Karamah TGKH M Zainuddin yang di Riwayatkan kH Mas'hum Ahmad kyayi besar NU ( Nahdlatul ulama ) | cinta nw

Karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke Lombok.

Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.


“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti. Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M, itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.


Kewafatan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Akhir tahun 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa 21 Oktober 1997 M/18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah, sang ulama kharismatis, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur.

Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang Islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik umat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.

Wallahua'lam


Dan masih banyak karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang lainnya yang belum kami tulis di sini.

Share:

Pernikahan TGKH M Zainuddin abdul majid | cinta NW

Karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke Lombok.

Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.


“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti. Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M, itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.


Kewafatan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Akhir tahun 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa 21 Oktober 1997 M/18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah, sang ulama kharismatis, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur.

Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang Islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik umat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.

Wallahua'lam


Dan masih banyak karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang lainnya yang belum kami tulis di sini.

Share:

pernah berkunjung ke tanjung Ringgit ? ini fakta sejarah Tanjung Ringgit Lombok Punya Cerita | Cinta NTB


Indonesia kaya akan nilai historis dan peninggalan – peninggalan bersejarah. Mulai dari bangunan – bangunan kuno, bukti – bukti tertulis berupa kitab – kitab kuno dan lain sebagainya. Khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lombok Timur terdapat berbagai macampeninggalan sejarah baik berupa situs, bangunan, tulisan dan lainnya. Seperti di Labuhan Haji, Selaparang, Tanjung Ringgit, Sugian dan banyak lagi lokasi lain yang belum diketahui nilai historisnya. Akan tetapi timbul berbagai masalah dalam pelestarian dan perawatannya. Mulai dari kesadaran masyarakat yang kurang berpartisipasi dalam merawat peninggalan sejarah dan juga faktor alam yang mengakibatkan korosi pada bagian situs.

Alasan kami memilih objek penelitian di Tanjung Ringgit karena dahulu lokasi tersebut sempat digunakan oleh Jepang sebagai tempat pemantau serangan sekaligus mobilisasi pasukan. Jika dilihat dari peta eloktronik Wilayah Tanjung Ringgit berada pada 116°34’0 detik BT - 8°53’2 detik LS. Jika kita melihat dari segi geo strategis tempat ini sangatlah cocok untuk menghalau serangan musuh yang datang dari sekutu khususnya  Australia. Sehingga banyak kita temukan sampai sekarang sisa–sisa bangunan dan peralatan Jepang seperti Meriam sebagai persenjataan berat yang digunakam untuk mengahalau serangan musuh, parit–parit sebagai tempat persembunyian sekaligus  pengintaian, Gua, perkantoran bawah tanah dan lain-lain. Hal inilah yang menjadi tujuan kami dalam mengkaji lebih jauh tentang keberadaan benda–benda bersejarah guna melihat sejauh mana fungsi .
Keadaan alam di sekitar situs meriam berada pada daerah ketinggian dan langsung berhadapan dengan pantai. Terlihat juga tanah disekelilingnya sebagian besar berbentuk kapur dengan intensitas hujan yang sangat kurang atau bisa dikatakan termasuk daerah kering.

Jika kita melihat kondisi fisiknya sebagian besar sudah rusak parah bahkan ada yang hanya menyiskan puing – puing bangunan saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi pertama yaitu faktor ekonomi. Karena alam Tanjung Ringgit yang dipenuhi oleh batu kapur membuat masyarakat sekitar melakukan penggalian di sekitar areal kawasan. Apalagi setelah diketahui bahwa kualitas batu kapur di wilayah ini adalah kualitas nomer satu. Ditambah dengan kondisi perekonomian saat ini yang tidak menentu menyebabkan segala cara dan upaya dilakukan guna menghidupi kebutuhan hidupnya sehari-hari yakni dengan melakuakan penggalian material kapur sehingga tidak jarang menimbulkan longsoran di lorong gua.
Faktor kedua yaitu faktor alam. Kurang terawatnya peninggalan – peninggalan ini membuat benda kuno seperti meriam terjadi pengakaratan atau korosi. Bahkan perlengkapan atau asesoris seperti baut, mur dan lainnya sudah lapuk akibat cuaca yang tidak menentu. Namun kini pemerintah Kabupaten telah melakukan pembenahan mulai dari pemugaran kantor, perbaikan di sekitar situs meriam, perawatan gua, perbaikan sarana dan prasarana menuju lokasi dan lain-lain.


Meriam
Meriam adalah salah satu senjata yang dikategorikan senjata berat yang digunakan sebagai alat perang. Khususnya meriam yang terdapat di Tanjung Ringgit, peralatan ini dipakai untuk menyerang musuh yang datang dari sekitar pantai. Sehingga jika kita perhatikan sekarang meriam tersebut menghadap utara ke selatan dan langsung berhadapan dengan pantai.
Akan tetapi sekarang keaslian meriam sudah tidak bisa ditemukan lagi karena telah terjadi pemotongan pada bagian ujung meriam sehingga kami tidak bisa mengetahui ukuran panjang asli dari benda tersebut. Selain itu banyak dari bagian situs yang sudah hilang karena tidak terawat dan faktor kejahilan manusia seperti baut, mur, bagian samping meriam dan lainnya.
Jika kita menilai deri segi strategis, penempatan senjata ini sangatlah cocok karena seperti yang dikatakan sebelumnya tepatnya berada di ketinggian dan langsung berhadapan dengan pentai sehingga mudah mengahalau musuh yang mengadakan pergerakan disekitar pantai. Selain jarak dengan lubang amunisi yang tidak terlalu jauh dari meriam sehingga proses pengisian ulang peluru lebih mudah. Lubang amunisi ini berada di bagian belakang meriam dan samping kanan meriam, yang kini kedua lubang amunisi ini sudah tertutup oleh longsoran tanah.

Meriam yang masih bisa ditemukan sekarang hanya satu buah dan yang lainnya lagi hanya meninggalkan pondasinya saja. Adapun ukuran yang kami dapatkan pada benda ini yakni memiliki panjang 472 cm, diameter lingkaran bawah 150 cm, diameter lingkaran atas 92 cm, lubang tempat menaruh peluru panjangnya 40 cm dan lebar 24 cm. Perisai meriam mengahadap ke arah utara ke selatan. Anak meriam yang berada di samping induk meriam memiliki panjang 156 cm. Diameter penopang meriam 123 cm dan diameter pondasi meriam 226 cm.
Selain itu terdapat lubang amunisi yang terdapat di belakang dan samping kanan gua yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 175 cm, tinggi 140 cm. Jarak meriam dengan lubang amunisi pertama yaitu 267 cm dan dengan lubang amunisi kedua yaitu 460 cm. Sedangkan jarak dari lubang amunisi satu dan kedua adalah 633 cm. Dibagian selatan dari meriam terdapat bangker. Dan memiliki dua lubang dengan ukuran sebagai berikut : panjang 135 cm, lebar 172 cm dan tinggi 160 cm.


Dibagian bangker terdapat parit yang berkelok – kelok dengan panjang keseluruhan 14925 cm, lebarnya 180 cm dan parit kedua yang ada di bagian belakang meriam yang menuju bagian barat pantai memiliki panjang 15705 cm. Pada parit pertama terdapat tempat persembunyian dan memiliki dua lubang. Lubang pertama memiliki lebar 74 cm dan panjang 75 cm serta lubang kedua dengan lebar 160 cm dan panjang 2.30 cm. Jarak dari lubang satu ke lubang dua yaitu 614 cm.
Bangker dan parit pengintaian
Bangker merupakan suatu bangunan yang sengaja dibuat sebagai tempat untuk mengatur strategi perang. Jarak antara bangker dengan meriam yaitu 53.46 cm. Di bagian bangker ini juga terdapat sebuah meriam, akan tetapi sudah rudah rusak sehingga yang tersisa hanya pondasi dasar meriam saja yang kini telah dipindahkan ke utara bangker. Di Bangker ini terdapat dua ruangan / lubang yang terbuat dari semen dengan lebar = 1.72 cm, panjang=1.60 cm, dan tinggi=1.35 cm.


Gua

Gua pada umumnya dijadikan sebagai tempat persembunyian sekaligus perlindungan dari musuh. Gua ini berbentuk seperti lorong setengah lingkaran dengan dinding keras berbentuk batu berkapur yang dahulu dibuat oleh para Romusha dengan menggunakan linggis atau alat lainnya. Romusha adalah para pekerja yang sengaja dijadikan sebagai babu dalam memenuhi kebutuhan Jepang pada saat itu. Salah satu kebutuhan Jepang yaitu gua. Hingga jika kita menarik hipotesis berapa banyak korban yang bergelimpangan dalam kegiatan tersebut.
Dilihat dari bentuk gua yang bervariasi yaitu dari segi ukuran, panjang, diameter dan lainnya, akan tetapi terdapat kesamaan antara gua – gua tersebut yaitu terdapatnya parit pertahanan. Parit pertahanan dibuat dari tumpukan batu yang dibentuk sedemikian rupa dan membujur dari kanan sampai kiri mulut gua. Parit ini dibangun guna menahan serangan musuh sekaligus dijadikan sebagai tempat mengintai musuh.
Gua pertama dengan panjang mencapai 2430 memiliki satu anak cabang buntu, dan terdapat pula jalan rahasia ke tempat penyimpanan senjata. Dari sekian banyak gua yang tersebar di wilayah Tangsi, ditemukan masih banyak yang belum jadi. Diperkirakan hal itu terjadi karena Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Sehingga seiring berjalannya waktu para penjajah sedikit demi sedikit meninggalkan wilayah Indonesia. Sehingga proyek yang sedang dalam tahap pengerjaaan kemudian ditinggalkan begitu saja. Seperti dekat Gua pertama yang dibagian akhir gua terdapat jorokan ke dalam yang buntu dan tidak jauh dari arah barat gua terdapat juga gua yang buntu. Diperkirakan sebenarnya jorokan gua pertama akan menembus gua yang ada di dekatnya bagian sebelah barat. Di bagian barat gua pertama juga terdapat gua buntu yang jika direkonstruksi lebih lanjut akan berhubungan dan membentuk seperti hurup W.


Kondisi gua yang gelap dan tidak terawat menyebabkan terjadinya longsor di beberapa cabang gua. Tidak di elakkan lagi keadaan ini dijadikan sebagai tempat habitat kelelawar yang menempel di bagian langit-langit gua, bahkan tidak jarang binatang buas pun bertempat tinggal di dalam gua seperti ular, dan bintang buas lainnya.
Gua Kedua yang terdiri dari tiga lubang yang hampir menyerupai bentuk hurup W. Lubang pertama memiliki panjang 280 cm dan tembus ke barat gua kedua dengan panjang 1030. Jarak dari lubang ke dua dengan tembusan lubang pertama yaitu 425cm dan lubang ketiga yang masih buntu memiliki panjang 860 cm. Di gua kedua ini terdapat parit pertahanan dan memiliki dua buah pintu masuk dengan panjang 2417 cm. Gua ketiga dengan panjang 1570 cm dengan panjang parit pertahanan 1900 cm. Gua keempat berbentuk hurup U dengan panjang 2880 cm dan memiliki parit pertahanan dengan panjang 2500 cm.


Bak penampungan air

Bak ini digunakan sebagai wadah untukpengumpulan air. Hal ini dilakukan karena daerah Tanjung Ringgit ini merupakan daerah dengan topografi yang kering, gersang, tandus. Sehingga satu-satunya yang dijadikan sebagai sumber penghidupan khususnya berkaitan dengan air hanyalah mengandalkan pada faktor musiman saja yaitu musim penghujan. Intensitas hujan yang rendah memaksa pendudukan Jepang di Tanjung ringgit membuat suatu penampung air sehingga mempermudah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bak penampungan air ini memiliki ukuran 380x573 cm dengan kedalaman mencapai 178 cm dan mempunyai dua bilik / ruang. Penempatan bak ini tidak terlalu jauh dari gua dan perkantoran bawah tanah yang berada di sekitar lokasi.
Kantor bawah tanah
Kantor dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para petinggi Jepang dan biasanya digunakan sebagai tempat mengatur taktik atau strategi. Kantor buatan Jepang ini memiliki keunikan dari kantor-kantor lain karena bangunannya berada di bawah tanah. Menurut salah seorang yang tinggal disana mengatakan bahwa sebelum memasuki dalam kantor, kita harus melewati beberapa anak tangga kemudian menemukan dua buah pintu masuk. Di dalam kantor terdapat 12 buah anak kursi yang di buat secara permanen dari semen dan posisinya saling berhadapan, enam bauh kursi di utara dan enam buah kursi di selatan. Akan tetapi kini kita hanya bisa melihat reruntuhannya saja karena setelah 
indonesia merdeka warga masyarakat mengadakan penjarahansenjata – senjata.


 Jepang bahkan merusak bangunan – bangunan Jepang. Sehingga kini yang tertinggal hanya puing – puingnya saja.
Dari pengertian tersebut saya bisa mempresentasikan bahwa Jepang pertama kali mendarat di Ampenan, kemudian Labuhan  Haji dan Labuhan Lombok. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menguasai terlebih dahulu pusat-pusat perekonomian yang pada saat itu berada di  Ampenan, Labuan Lombok, dan Labuhan Haji.
Setelah Jepang menguasai ketiga pusat perekonomian tersebut, barulah kemudian Jepang mendarat di Tanjung Ringgit pada tahun 1942. Pada saat itulah Jepang mendirikan sebuah benteng pertahanan, satu di sebelah utara yaitu untuk mengatasi pergerakan musuh yang datang dari Labuhan Haji dan satunya lagi di sebelah selatan yaitu untuk memobilisasi musuh yang datang dari Ampenan.
       Adapun lorong-lorong gua yag di buat di daerah Tangsi tersebut dijadikan sebagai tempat pertahanan. Karena tempat ini dikelilingi oleh bukit-bukit, jadi aman untuk tempat persembunyian.








Share:

Sejarah Makam Loang Baloq LOMBOK | Cinta NTB

tekan untuk perbesar
Sejarah Makam Loang Baloq Lombok - Sejarah Makam Loang Baloq yang menjadi objek wisata serta tempat yang di sakral kan di daerah lombok, berikut sejarah singkatnya.

Makam Loang Baloq adalah Makam yang di keramatkan yang terletak di Kota Mataram, tepatnya di wilayah Kecamatan Sekarbela. Dulunya termasuk wilayah Kecamatan Ampenan. Sejarah memberi Napaktilas untuk Sang Wali Gaos yang bernama Assyeikh Gaos Abdurrazak.

Makam loang baloq
Menurut Penglingsir /orang Tua di Gumi Sasak bahwa dahulunya,para peziarah dari Gubuk Batumediri dan masyarakat di pinggiran pantai memiliki penamaan yang khusus untuk sang Wali gaos,Yaitu dengan sebutan jejuluk “Toaq bayan udang”, karena pekerjaan sehari harinya adalah sebagai pengodong (penangkap udang).


Dari beberapa sumber mengatakan bahwa sang Gaos berasal dari Timur tengah yaitu Baghdad dan pertama kali menginjakkan kakinya di Bayan yang kemudiannya bermukim di Kampung Batumediri. Di desa desa pinggiran pantai beliau sangat ditokohkan kerena keilmuannya di bidang agama (Islam).


Syeikh Gaos Abdurrazak tidaklah sendirian, ia bersama satu orang pengiringnya atau orang yang paling dekat dan di anggap paling setia bersamanya,tatkala dimana dan kemana gaos berada,oleh masyarakat sekitarnya pengiring setia Syeikh Gaos itu yang di sebutnya dengan nama Datoq laut. Nama itu berkembang di wilayah kampung Batumediri. Beliau di sebut Datoq Laut karna orang orang yang sedang beraktifitas di tepi pantai itu melihatnya sang Datoq sering berjalan di atas permukaan air Laut. sang Datuk laut tidak pernah diketahui darimana asal usulnya.


Makam Syiek Gaos yang asli pada mulanya berada di karang Seme (tepatnya dipinggir jalan) yang berada didepan pekuburan atau di luar komplek pekuburan karang Seme. Kekeramatan sang gaos mulai nampak pada saat keangkuhan orang-orang yang menganggap diri Penguasa (monarehi absolut) saat itu. Instruksi lisan dari sang penguasa saat itu (sekitar tahun 1700an) Sang Penguasa pada Zaman itu menginstruksikan agar makam asli sang gaos dipindahkan demi sebuah citra yang menurunkan kewibawaannya yang Riaq Besar.
tekan untuk perbesar



Akhirnya sang gaos makamnya harus pindah ketempatnya yang sekarang yaitu dipekuburan umum loang baloq sehingga masyarakat seantero jagat lombok mengenalnya dengan sebutan makam loang baloq. Dalam sejarah kehidupannya diceritakan oleh Narasumber bahwa hasil tangkapan atau hasil kodongnya yang berupa ikan udang dijual atau dipasarkan oleh sang datoq (datoq laut).

Keikhlasan mereka berdua meninggalkan bongkahan amal yang tak mungkin dilupakan masyarakat sampai kapanpun. Misterinya Syeikh Gaos Abdurrazak dan Datoq laut dimakam keramat ini dilengkapi juga dengan kehadiran makam Anaq iwok,Anak iwoq adalah berarti seseorang yang tidak memiliki Ayah,Ibu dan sanak saudara,yang hidupnya sebatangkara. menurut keterangan para peziarah yang sering datang kesitu,konon mereka mendapatkan keberkahan dan kedamaian dari Allah swt.


Share:
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG PECINTA NAHDATUL WATHAN/ POKOKNYA NW / POKOK NW IMAN DAN TAQWA / cintanw.blogspot.com
SEPUTAR SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSA TENGGARA BARAT DAN NUSANTARA INDONESIA

HIMPUNAN SEJARAH

Popular Posts