Showing posts with label nama sasak. Show all posts
Showing posts with label nama sasak. Show all posts

Karya Maha Agung Di Pulau Seribu Masjid| Cinta NTB

Bukit Pergasingan Desa Sembalun kini telah menjadi bahan perbincangan yang ramai dikalangan para wisatawan dan para pecinta travelling. Bukit Pergasingan adalah sebuah bukit yang menjulang tinggi di samping Gunung Rinjani dan terletak juga di Desa Sembalun bagian Utara tak jauh dari Aikmel dan masih wilayah Lombok Timur. Bukit Pergasingan mempunyai pemandangan yang sangat indah dengan menampilkan keindahan dan kemegahan Gunung Rinjani secara dekat. Saat pagi hari kita juga bisa menikmati view matahari terbit dari sini. Tak hanya itu, disini kita juga bisa melihat pemandangan persawahan yang unik dan warna-warni di Sembalun.


Bukit Pergasingan memang awalnya masih belum banyak dikenal, tapi kini telah menjadi tujuan oleh para traveler yang berkunjung ke Bumi Rinjani. Bukit ini memiliki ketinggian 1.670 mdpl. Pergasingan sendiri diambil dari kata "Gasing" yang mana sejarahnya dulu bukit ini sering digunakan untuk pertandingan permainan Gasing oleh penduduk Desa Sembalun.

Bukit ini dapat didaki dari Sembalun dengan waktu pendakian normal 2 jam sampai puncak. Bukit Pergasingan ini bisa dijadikan tempat latihan kita sebelum mendaki Gunung Rinjani, bahkan sekarang bukit ini telah dimanfaatkan sebagai start extreme sport bagi pelaku olahraga paralayang, sepeda gunung dll. Disini juga adalah tempat surganya para photographer karena pemandangan dari bukit ini sungguh indah seperti lukisan.
Se
bagian besar pengunjung yang datang ke Bukit Pergasingan adalah mereka para pelajar, mahasiswa dan para pecinta alam yang memanfaatkan akhir pekan. Di sini kita juga bisa menemukan banyak jenis flora dan fauna, jadi bagi para pecinta alam dan pendaki gunung yang mendaki Gunung Rinjani, jangan lupa sempatkan diri berkunjung dan berkemah di Bukit Pergasingan Sembalun.
Tak diragukan lagi bahwa Pulau Lombok merupakan surganya wisata. Dengan destinasi yang komplit mulai dari keberagaman wisata alam baik itu pantai, gunung, bukit, adat serta wisata kuliner. Bagi semua wisatawan jangan lupa untuk berkunjung ke Pulau Lombok.

Gunung Rinjani selalu memikat para wisatawan yang berkunjung ke Lombok, NTB. Dari Bukit Pergasingan, Gunung Rinjani tampak indah sekali. Jalur pendakian ke Rinjani dahulu cuma ada dua yaitu dari Senaru dan Sembalun. Namun sekarang sudah ada beberapa jalur pendakian. Bagi yang tidak mengejar puncak gunung biasanya wisatawan naik melalui Senaru. Namun bagi wisatawan yang mengejar puncak, biasanya mereka naik dari Sembalun.

Tetapi bagi mereka yang tak sanggup naik walau sampai Segara Anak, wisatawan bisa berfoto-foto dengan latar belakang Gunung Rinjani. Bukit Pergasingan Lombok, kini muncul kepermukaan sebagai tempat wisata baru yang menjadi favorit bagi wisatawan terutama pecinta alam dan pendaki gunung, terletak di desa sembalun, bukit pergasingan merupakan sebuah bukit yang menjulang tinggi yang terletak disamping gunung rinjani. Bukit pergasingan memiliki ketinggian 1670 mdpl hanya selisih 56 meter dari gunung andong di magelang, bukit pergasingan menawarkan pemandangan kotak-kotak sawah desa sembalun yang berwarna warni, selain sawah desa sembalun, kita akan melihat gunung rinjani berdiri kokoh didepan mata, ditambah lagi sunrise di puncak bukit pergasingan juga tak kalah indah Tiba di puncak satu Bukit Pergasingan, sabana cukup luas menghampar. Dari puncak satu, Gunung Rinjani berdiri gagah menantang langit. Sebuah kolam air besar bersebelahan dengan kebun sayur terlihat dari puncak satu.

Arpini menuturkan bahwa kolam itu merupakan penampungan air untuk irigasi ladang sayur. Bukit Pergasingan yang ada di Lombok ini memang menawan. Apalagi biasanya bukit keren yang satu ini dimanfaatkan sebagai salah satu tempat pemanasan sebelum naik ke Gunung Rinjani. Atau bisa juga sebagai alternatif pendakian jika misalnya jalur pendakian Gunung Rinjani sedang ditutup. Di Bukit Pergasingan, wisatawan bisa melihat Gunung Rinjani dengan jelas dan tentunya bisa berfoto dengan latar belakang gunung tersebut. Untuk mencapai bukit tersebut dibutuhkan perjuangan yang tak mudah.

Misalkan Anda mau mengejar sunrise, Anda harus datang ke Bukit Pergasingan pagi. Nah maka dari itu, sehari sebelum ke Bukit Pergasingan, Anda harus menginap dahulu di penginapan-penginapan di daerah Sembalun. Karena dari Kota Mataram menuju Sembalun dibutuhkan waktu tempuh 4-5 jam. Dari Sembalun menuju Bukit Pergasingan, Anda bisa menempuh dengan mobil atau motor. Lalu kemudian Anda harus bersiap mendaki dan menaiki sekitar 70 anak tangga untuk mencapai spot foto atau pemandangan Rinjani pertama. Bila Anda punya waktu banyak dan cukup kuat, Anda bisa mencapai puncak dari Bukit Pergasingan.

Saya dari penginapan di Sembalun berangkat sekitar pukul 05.00 WITA dan tiba di bukit sekitar pukul 05.20 WITA. Masya Allah, setelah saya mendaki dan mencapai spot pertama saja, saya bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan. Bisa dibilang bukit pergasingan memiliki persamaan dengan gunung andong di magelang, apabila di gunung andong kita akan melihat pemandangan sawah desa sekitar dan gunung merbabu yang berdiri kokoh didepan mata.


Di bukit pergasingan kita juga bisa melihat gunung rinjani, persawahan desa sembalun dan sunrise yang tak kalah indah dari gunung Andong, kita sebut saja bukit pergasingan andong-nya lombok. Karena pendakiannya tidak terlalu lama, hanya memakan waktu sekitar 1-2 jam jadi banyak wisatawan terutama pelajar dan mahasiswa yang datang kesini untuk menghabiskan akhir pekan, selain itu lokasi wisata bukit pergasingan juga dijadikan sebagai spot paralayang dan downhill. Karena jernihnya air sungai di Bukit Pergasingan, beberapa ikan kecil pun tampak di sungai tersebut. Selain itu di bukit ini, kebersihan lingkungannya masih terjaga.

Tidak ada sampah-sampah di sekitar lokasi. Benar-benar sungguh indah pemandangan di Bukit Pergasingan. Jadi sekarang Anda tinggal tentukan sendiri. Mau naik ke Gunung Rinjani lewat jalur pendakian Senaru atau Sembalun. Atau Anda hanya mau berfoto dengan latar belakang Gunung Rinjani di Bukit Pergasingan.

Puncak Dua
Selain puncak satu, pendaki dapat menuju puncak dua yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik pemberhentian pertama. Jalur yang ditempuh cenderung landai dan melewati hutan tropis yang ditumbuhi rerumputan. Serta melintasi deretan pohon cemara gunung yang tumbuh di bukit. Setelah mendaki bukit gundul tanpa pepohonan, kanopi dari hutan cukup membuat teduh dari paparan sinar matahari. Di ujung jalur, puncak dua menghampar ditumbuhi rerumputan. “Itu ujung Pulau Lawang dan Sulat. Gili Lawang dan Sulat-nya bagus. Kalau tidak berkabut bisa lihat laut,” kata Arpini yang juga pemandu pendakian Gunung Rinjani. Pendakian Bukit Pergasingan dapat ditempuh dalam dua hari satu malam perjalanan. Idealnya para pendaki mengejar matahari terbit di ufuk timur yang langsung muncul dari arah laut.

Pendakian umumnya dimulai ketika dini hari pukul 02.00 WITA dan tiba sebelum fajar menyingsing. Untuk perizinan dan pemandu pendakian, pendaki dapat menghubungi komunitas lokal yaitu Pusat Pengembangan Masyarakat Sembalun.


Share:

Sejarah Lombok Yang Sudah Tertulis Di Kitab Kertagama | Cinta NTB

Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok - Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa. Namun, penduduk Nusa Tenggara Barat yang berjumlah lebih dari tiga juta, dua pertiganya tinggal di Pulau Lombok. Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa. Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka sebagian besar memeluk agama Islam.


Asal Kata Lombok dan Sasak
Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa Sasak; “lomboq” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya “perahu bercadik”.
Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah “sebia” (dibaca “sebie”)

Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak. Nama Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu nama dari Pulau Lombok. Nama lain yang sering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti “sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”, sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu kerajaan Selaparang.

Sejarah Asal Usul Nama Lombok
Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.

Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sang Permaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.

Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.

Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia)

Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang.

Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang Sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.


Share:

Sejarah Karomah TGH MAHSUN masbagek | Cinta NW

PERJUANGAN TGH MAHSUN (MASBAGIK)
DALAM MENEGAKKAN AJARAN AGAMA ISLAM

1. Kepribadian TGH Mahsun
TGH Mahsun memiliki nama kecil Ahmad dilahirkan pada tahun 1907 Masehi tepatnya di Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Ahmad dilahirkan dari pasangan Haji Mukhtar dan Hajjah Raodah. Haji Mukhtar sendiri pernah kawin sampai 4 (empat) kali. Adapun istri-istri dan putra-putri Haji Mukhtar sebagai berikut :
a. Pernikahan dengan Inaq Tanah mempunyai anak Maenah
b. Pernikahannya dengan Hajjah Raodah mempunyai anak bernama Ahmad (TGH Mahsun)
c. Pernikahan dengan Inaq Husni mempunyai anak bernama Nikmah
d. Pernikahan dengan Inaq Anwar mempunyai anak antara lain Haji Akil Mukhtar, Kamaruddin, Nikmah, dan Huzaenah

Karakter dari orang tua Ahmad adalah sosok yang tekun, rajin, selalu memuliakan para ulama, orang-orang shaleh dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kelahiran putera (Ahmad) sangat menggembirakan hati dan beliau berharap kelak Ahmad akan tumbuh menjadi seorang yang dapat memberikan pengajian kepada masyarakat. Obsesi Haji Mukhtar untuk menjadikan Ahmad sebagai putra yang dapat mengembangkan ajaran Islam dan membangun kehidupan sosial ekonomi masyarakat, sangatlah beralasan karena situasi dan kondisi pada waktu itu, amat sangat membutuhkan figur kharismatik.
Sejak masih kecil, Ahmad telah memperlihatkan sifat-sifat kepemimpinan ; rajin, tekun, sabar, pemberani dan pemurah, maka tidaklah mengherankan ketika masih kecil Ahmad memiliki teman-teman yang banyak. Hidup dalam belaian kasih sayang orang tua dan ekonomi yang berkecukupan tidaklah menjadikannya sebagai seorang yang angkuh dan sombong. Bahkan dalam lingkungan keluarga Haji Mukhtar memberikan pendidikan dasar-dasar agama Islam. Dan sebagai wujud perhatiannya kepada para ulama, orang-orang shaleh beliau menyerahkan Ahmad kepada guru ngaji di kampong.

2. Pengembaraan TGH Mahsun dalam Menuntut Ilmu

Setelah menempuh pendidikan non formal yaitu belajar membaca Al Qur’an, ia memasuki lembaga pendidikan formal. Pada usia 8 tahun, Ahmad masuk pada Sekolah Rakyat. Guru-guru sangat senang dengan sifat dan sikap pribadi Ahmad. Waktunya dihabiskan untuk belajar. Berkat ketekunan, kedisiplinan dan kecerdasannya Ahmad menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat. Harapan untuk peningkatan perkembangan pendidikan Ahmad, orang tuanya kemudian melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Ibtidaiyah. Di Madrasah Ibtidaiyah, Ahmad sangat menyenangkan hati para gurunya (ustadz) karena sopan santun dan budi pekerti yang baik, serta rajin dalam mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan.

Motivasi Ahmad untuk terus mendapatkan pendidikan semakin meningkat, setelah menyelesaikan pendidikan di Ibtida’yah beliaupun kemudian berangkat untuk melanjutkan pendidikannya di Bengkel Lombok Barat. Beliau diajar oleh seorang tokoh dan ulama besar TGH Muhammad Shaleh Hambali yang sudah sangat terkenal pada masa itu. Ahmad belajar ilmu-ilmu Tauhid, Usul Fiqh, dan lain-lain. Dalam belajar di Bengkel beliau terus mengkaji masalah-masalah agama, jika tidak diketahui, beliaupun segera mempertanyakan tanpa harus malu, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian beliau mendapatkan pengakuan sebagai murid yang terbaik. Oleh karena itu, TGH Muhammad Shaleh Hambali pernah berpesan “cukuplah yang menjadi wakil saya di Lombok Timur TGH Mahsun (Ahmad), jika ada masalah bertanyalah padanya (TGH Mahsun)”.


Selain itu beliaupun (TGH Mahsun) banyak belajar pada Tuan Guru Badarul Islam Pancor. Untuk memperdalam ilmunya iapun berangkat ke Makkah Al Mukarromah pada tahun 1936 M dan kembali ke Tanah Air pada tahun 1940 M. Selama beliau di Mekah beliau terus berguru dan belajar pada ulama-ulama terkenal dan Imam Masjidil Haram. Selama 4 tahun di Makkah, banyak ilmu-ilmu agama yang diperoleh. Pengembaraannya di Makkah menjadi bekalnya untuk memberikan dakwah pengajian di masyarakat.

3. Kiprah dan Perkawinan TGH Mahsun
Sepulang dari Makkah ia memberikan pengajian dengan sistem Khalaqoh. Keberhasilannya dalam memberikan dakwah Islamiyah di Lombok, sangatlah mencengangkan karena dalam waktu singkat berbagai dakwah dilakukan di berbagai tempat di pulau Lombok, seperti Masbagik (kecamatan tempat lahirnya), Banok, Sukaria, Suela, Sembalun, dan Bayan (Lombok Barat). Untuk melaksanakan dakwahnya tidak jarang dilakukan dengan menunggang kuda seperti ke Sembalun. Keberhasilan ini ditunjang oleh strategi dan prinsip pendekatan yang dipergunakan dalam menyampaikan dakwah, antara lain
 (1) menyenangkan para jama’ah bukan kemudian menakut-nakuti dan tidak mempersulit
 (2) setelah selesai memberikan materi biasa dilanjutkan dengan materi tanya jawab sesuai dengan kebutuhan para jama’ah,
 (3) setiap jama’ah yang datang berkunjung ke rumahnya, selalu dterima dengan sikap dan etika ketimuran
 (4) tidak pernah menuntut imbalan dalam setiap dakwahnya sehingga tidak merepotkan para jama’ah,
 (5) memperhatikan pentahapan materi dakwah dan memperhatikan volume jama’ah yang menghadiri pengajian,
 (6) terbuka dan transparan, apabila tidak diketahui suatu hukum beliau tidak menyampaikannya atau dan meskipun ia mengetahui hukum yang ditanyakan oleh para jama’ah dengan rela dan rendah hati kemudian menyerahkannya kepada muridnya sebagai tanda penghargaan,
(7) memilih kata yang tepat dalam berdakwah, beliau sangat memperhatikan tingkat kejenuhan para jama’ah sehingga disela-sela pengajian ia memberikan humor yang agamais.
TGH Mahsun selama menjalankan dakwah Islamiyahnya didampingi oleh istri-istrinya tercinta. Beliau pernah menikah sampai 9 (sembilan) kali dan memiliki banyak keturunan. Adapun istri-istri dan putra-putri beliau dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Pernikahannya dengan Inaq Badri alias Kalsum, alias Hajjah Raodah mempunyai putra-putri antara lain :
 (1) TGH Marzuki Mahsun,
 (2) Abdul Hanan (Bapak Uhip),
(3) Zohrah (Inaq Qazuini),
 (4) Joharah (Inaq Iftihar),
(5) Muslihun (Inaq Nurul Azmi),
(6) Mulkiah,
(7) Faizah,
(8) Asnawi.
b. Pernikahannya dengan Inaq Syaraf (Inaq Eseq) mempunyai anak :
(1) Bapak Zaki,
(2) Haji Nasrin Mukhtar
c. Pernikahannya dengan Hajjah Selamah dari Dasan Ma’alan tidak memiliki keturunand. Pernikahannya dengan Inaq Muslihin mempunyai anak bernama Muslihin (almarhumah)
e. Pernikahannya dengan Hajjah Rahmah tidak memiliki keturunan
f. Pernikahannya dengan Inaq Ridwan (Kalsum) memiliki putra-putri antara lain : (1) Haji Ahmad Wildan Mahsun (almarhum),
(2) Ahmad Rifa’i (almarhum),
(3) Hamdiah,
 (4) Hajjah Faoziah
g. Pernikahannya dengan Hajjah Wardiah mempunyai putra-putri antara lain :
 (1) Ihsan (almarhum,
(2) Muhammad Lutfi,
 (3) Haji Wahibullah SIP,
 (4) Haji Miftahul Hadi, SH,
 (5) Muhimmah,
 (6) Ahmad Nizam
h. Pernikahannya dengan Hajjah Mahmudah mempunyai putra-putri antara lain : (1) Muzmah,
(2) Zulfaiyah,
(3) Nahdiyah,
 (4) Hauliyah
i. Pernikahannya dengan Hajjah Nur Asmah (Pontianak) mempunyai putra-putri antara lain :
(1) Hajjah Nurjannah,
(2) Hajjah Nurhasanah,
 (3) Muhammad Farhi,
(4) Solehah, S.Pd.,
(5) Dra Zakiah
, (6) Huliyah,
 (7) Narjus Safa’ah,
 (8) Daman Huri,
(9) Nurul Hawalis (almarhum)
4. Karya dan Peninggalan TGH Mahsun
Gerakan-gerakan TGH Mahsun dalam mengembangkan dan memberikan pelajaran Agama Islam bukan hanya kepada orang tua. Beliaupun bergabung dalam Organisasi Nahdlatul Ulama dan pada tahun 1936 Masehi mendirikan Lembaga Pendidikan Diniyah. Lembaga pendidikan tersebut didirikan bersama tokoh-tokoh seperti TGH Muhammad Zen (Bangket Kebon atau Kebun Lauq), TGH Hasbullah Polak Penyayang, TGH Achsit Muzahar Bila Sundung, TGH Abdul Hakim, TGH Muhammad. Perkembangan selanjutnya beliau mendirikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) yang kemudian dilebur menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB). Pada tahun 1968 keluar dari Organisasi Nahdlatul Ulama membentuk organisasi yang berdiri sendiri yang diberi nama Organisasi Rabhitah. Selanjutnya dalam organisasi tersebut membentuk wadah Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ummah (Yadinu). Yang kemudian Madrasah Ibtidaiyah Yadinu (sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah Yadinu di Masbagik Selatan). Alhamdulillah berkat jasa-jasanya, sampai saat ini berkembang lembaga-lembaga pendidikan dalam wadah Organisasi Yadinu dan Al Ijtihad.
TGH Mahsun tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan, beliaupun juga terjun menumpas para penjajah bangsa. TGH Mahsun adalah tokoh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Pasukan Banteng Hitam. Beliau memimpin Masbagik saat penyerangan Belanda di Kota Selong, bergabung dengan pasukan dari Lendang Nangka (H. Jumhur Hakim) dan Pasukan dari Pringgasela (TGH Muhammad). Pada saat penyerangan tersebut, gugurlah pahlawan-pahlawan yang sangat kita banggakan antara lain ; TGH Muhammad, Sayid Saleh (Pringgasela), TGH Faesal saudara dari TGH Zaenuddin Abdul Majid (Pancor).



Share:

Riwayat Karamah Tanda Cinta Sayyid Muhammad bin Alawi kepada Maulanasyikh M Zainuddin Lombok "Gubernur NTB umur 14 tahun "| Cinta NW

Awal juli tahun 1986 silam, seorang ulama besar Kota Makkah yang masyhur di Dunia internasional, Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki melakukan safari dakwah ke Indonesia. Beliau memang memiliki banyak murid di tanah air. Termasuk murid dari pada walid beliau, Sayyid Alawi Al-Maliki. Satu diantara murid dari walid beliau adalah, Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Pendiri organisasi massa terbesar di Nusa Tenggara Barat yaitu Nadhaltul Wathan (NW).

Abuya – biasanya Sayyid Muhammad bin Alawi dipanggil oleh para muridnya – pada safari kali ini berkomitmen berkunjung ke Lombok untuk menemui Maulana Syekh. Mendengar kabar bahwa Abuya sudah berada di Surabaya, Maulanasyekh mengutus salah seorang muridnya sebagai duta untuk “menagih” komitmen Abuya. Murid itu adalah TGH. Muhammad Thahir Azhari asal Merang peraya.

Walid sempat tidak percaya diri pada awalnya karena banyak murid Maulanasyekh yang lebih cakap dan hebat dibanding dirinya. Terlebih lagi tamu yang akan datang ini adalah seorang ulama caliber internasional. Seorang Alim Allamah, Muhaddits, Muarrikh, dan ahli dalam hampir semua disiplin ilmu keislaman. Ia berhusnuzhan, mungkin karena dirinya sering bolak-balik Lombok – Surabaya untuk urusan bisnis, sehingga ia dianggap sudah hafal kota Pahlawan tersebut. Namun, tentu amanah (kepercayaan) dari sang Maha Guru, yaitu Maulanasyekh sendiri tidak boleh disia-siakan. Akhirnya berangkatlah walid seorang diri ke Ibu kota Provinsi Jawa Timur itu.

Walid (TGH. M. Thahir) menceritakan kepada penulis, “Bapak pertama jumpa Abuya (Sayyid Muhammad) dirumah murid beliau, KH. Muhiddin Nur di Panda ana’an, Surabaya. Ditunjukkan oleh seorang yang bernama bin Hood. Ketika tahu kalau Bapak utusan dari Lombok, saat itu Bapak sedikit dihalangi oleh sebagian murid beliau, karena mereka sudah menyusun jadwal Abuya yang cukup padat di Jatim. Tapi bapak berusaha menerobos, bahkan hingga berdebat sampai akhirnya diterima langsung oleh Abuya.”

Baca juga :
Ulama Besar Pulau Lombok

Pernikahan Maulanasykh Yang Penuh Berkah


Respon Abuya sangat baik saat muwajahah dan setelah menyampaikan salam Maulanasyekh sambil Bapak memohon agar jadwal kunjungan ke Lombok yang sudah dijanjikan oleh beliau dapat dipenuhi dengan alas an bahwa Maulanasyekh sudah mengumumkan kepada warna NW di hampir semua madrasah. Akhirnya Abuya menyanggupi dengan syarat disipkan tiket pesawat (tujuannya demi melihat kesungguhan maksud dari penjemput), tanpa berfikir panjang, Bapak menyanggupi.”

Walid melanjutkan kisahnya, “Pagi-pagi buta sebelum jam 8 kantor Garud Airlines dibuka, bapak sudah menunggu. Alhamdulillah Bapak dapat tiket untuk 6 orang untuk keberangkatan hari itu juga. Turut mendampingi Abuya, KH. Ihya’ Ulumuddin (Pimpinan Hai’ah Ash Shofwah Malikiyyah pusat), Habib Hamid selaku pimpinan ponpes Daru Sholihin Pasuruan dan beberapa murid senior yang Bapak lupa namanya.

Mendaratlah Abuya bersama rombongan di Bandara Selaparang Lombok. Dari sana langsung bertolak ke Pancor Lombok Timur. Pancor adalah pusat organisasi NW. Abuya dan rombongan diterima di Musholla Al-Abraor dimana Maulanasyekh beserta ribuan jama’ah NW sudah menanti kedatangan Abuya. Turut menyambut saat itu Ketua Umum PBNW, Bapak Drs. H. Lalu Gede Wiresentane, Amid MDQH, TGH. Lalu M. Yusuf Hasyim, beserta seluruh masyaikh MDQH dan para asatizh di lingkungan Pondok Pesantren Darun Nadhlatain Pancor.

Dalam kesempatan tausiyah yang diterjemahkan KH. Ihya Ulumuddin – kenang Bapak, Abuya menyatakan bahwa tidak ada seorang pun ahli ilmu di kota suci Makkah, baik thullab maupun ulamanya yang tidak kenal ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Beliau adalah ulama besar yang bukan hanya milik ummat Islam sedunia. Abuya juga menganjurkan agar Thullab NW jangan takut belajar hingga ke luar negeri, namun dengan syarat tetap memegang teguh Mazhab Ahlu Sunnah. Ambil ilmu seluas-luasnya, tapi jangan lupa pada aqidah yang diajarkan guru besar NW, Syekh Zainuddin Abdul Madjid.

Walid pun ingat, bahwa di antara yang turut menyimak tausiyah Abuya pada saat itu adalah salah seorang cucu Maulanasyekh yang duduknya tidak terlalu jauh dengan Abuya seraya memperkenalkannya, “Abuya, anak ini adalah salah satu cucu dari Maulanasyekh, namanya Muhammad Zainul Majdi” Abuya saat itu tersenyum simpul seraya mendoakan kebaikan untuknya. Usinya sang cucu waktu itu 14 tahun, masih duduk di bangku Madrasah Mualimin Pancor. Kini ia menjabat Gubernur NTB selama 2 periode.


Abuya Sayyid Muhammad terkenal dengan sifat sakho’nya (dermawan). Beliau kerap memberi hadiah berupa uang atau kitab karya beliau kepada tamu atau murid-muridnya. Pada kesempatan kunjungan waktu itu, padahal kedudukan beliau sebagai tamu, beliau memberikan bantuan Rp. 5 juta kepada Maulanasyekh untuk kepentingan NW. lantaran gembiranya Maulanasyekh menerima sumbangan (hadiah), beliau memperlihatkan hadiah itu kepada murid-murid dan keluarganya, “No gitak, mauk aku hadiah lekan bijen gurungku” (lihat, ini saya dapat hadiah dari putra guruku)

Menjelang kembali, abuya diajak keliling ke rumah-rumah beliau, baik yang di Bermi maupun di Toko kita. Abuya diajak juga ziarah ke Masjid Pancor. Setelah itu Abuya menjanjikan sumbangan untuk masjid, dan nantinya benar-benar dipenuhinya. Pada kesempatan di mana walid mengantar Abuya kembali ke Surabaya, uang sumbangan itu dititip melalui walid. Uang itu walid serahkan kepada Maulanasyekh. Pada kesempatan itu Maulanasyekh berujar, “Kalau sumbangan ini dititip melalui orang lain, uang ini bisa jadi berkurang” langsung dihari itu juga Maulanasyekh memanggil pengurus masjid untuk menerima sumbangan Abuya. Abuya juga menitipkan kepada walid 40 kitab lebih karangan beliau sebagai “Hadiah tanda cinta” untuk Maulanasyekh. Masing-masing judul sejumlah 5 eksemplar.

Kunjungan Abuya pada tahun itu merupakan kunjungan pertama dan terakhir. Beliau tidak sempat lagi mengunjungi pulau Lombok. Semoga ke depan, ada keturunan atau kerabat dari Abuya yang melanjutkan jalinan silaturrahim itu kembali. Demikian harapan walid dan kita semua.

Bapak Maulanasyekh sendiri menuturkan bahwa dirinya adalah murid Sayyid Alawi, walid dari Abuya. Sayyid Alawi selalu meminta doa kepada hadirin di majelis untuk anak-anaknya. Sehingga dengan izin Allah banyak dari dzurriyatnya menjadi ulama dan da’i. demikian pula dengan Bapak Maulanasyekh, tradisi itu ditirunya. B
Share:

Pola belajar Maulanasykh Zainuddin Abdul Majid yang sulit di Tiru Sahabat Sahabatnya Diriwayatkan oleh sahabatnya seorang seykh di Jawa| Cinta NW

click untuk perbesar
  Pendidikan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Perjalanan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam menuntut ilmu pengetahuan diawali dengan pendidikan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Beliau belajar mengaji membaca al-Quran dan berbagai ilmu agama lainnya kepada ayahandanya sendiri, Tuan Guru KH. Abdul Majid.

Pendidikan yang diberikan oleh ayahnya tersebut dimulai semenjak beliau berusia 5 tahun dan kemudian memasuki pendidikan formal semenjak berusia 9 tahun. Sekolah formal yang beliau mesuki adalah sekolah umum yang pada saat itu disebut dengan Sekolah Rakyat Negara (Sekolah Gubernemen) di Selong Lombok Timur. Di sekolah tersebut beliau belajar selama 4 tahun hingga tahun 1919 M.

Setelah menamatkan pendidikan formalnya pada Sekolah Rakyat Negara pada tahun 1919 M, ia kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk belajar ilmu pengetahuan agama yang lebih luas lagi pada beberapa kyai lokal saat itu, antara lain Tuan Guru KH. Syarafuddin dan Tuan Guru KH. Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru KH. Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur. Dari beberapa kyai ini, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin selain mempelajari ilmu-ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Arab Melayu, juga secara khusus mempelajari ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab, seperti ilmu nahwu dan sharaf.

Pola pengajaran yang dilakukan oleh kyai-kyai lokal ini masih bersifat klasik, yaitu masih menggunakan sistem halaqoh, yang dalam pembelajarannya murid-murid duduk bersila dan sang guru memberi pengajaran dengan membacakan kitab yang dipelajari kemudian para murid masing-masing membacanya saling bergantian satu persatu.

Bagi Tuan Guru KH. Syarafuddin, Muhammad Saggaf merupakan murid yang istimewa. Keistimewaan tersebut mendorong gurunya untuk membebaskannya dari membanntu gurunya bekerja di sawah. Pada saat itu murid-murid yang mengaji di rumah seorang tuan guru tidak dipungut bayaran. Sebagai gantinya, mereka dihariskan berkerja di sawah tuan guru tersebut.

Berbeda dengan Muhammad Saggaf, karena keinginan kuat ayahnya agar ia menjadi murid yang pandai, ayahnya sanggup dengan membayar dengan 200 ikat padi setahun (sekitar 2 ton padi atau gabah), sebagai ganti kewajiban bekerja di sawah. Maksud ayahnya dengan kesediaan ini adalah agar anaknya tidak terganggu aktivitas belajarnya sehingga ia berkonsentrasi pada pelajarannya.

 Belajar ke Tanah Suci Makkah

Menjelang musim haji pada saat itu sekitar tahun 1923 M, Muhammad Saggaf yang pada saat itu tengah berusia 15 tahun, berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan studinya, memperdalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan islam dengan diantar langsung oleh kedua orangtuanya bersama adiknya, yaitu Muhammad Faishal dan Ahmad Rifa’i serta seorang kemenakannya.

Bahkan pada saat itu salah seorang gurunya ikut serta dalam rombangan itu, yaitu Tuan Guru KH. Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya.

Beliau belajar di Tanah Suci Makkah selama 12 tahun. Di kota suci itu beliau mula-mula belajar di Masjidil Haram. Ayahnya sangat selektif dalam mencarikan dan menentukan seorang guru yang akan mengajar dan mendidik putra kesayangannya itu. Ayahandanya meyakini bahwa seorang guru adalah sumber ilmu dan kebenaran serta menjadi contoh dan panutan bagi muridnya dalam segala aspek kehidupan baik dalam pola berfikir dan berperilaku, sehingga ilmu dan didikan yang diperoleh sang murid berguna dan bermanfaat bagi kehidupan baik di dunia dan di akhirat.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ayahnya sibuk mencarikannya seorang guru yang tepat dan cocok untuk mengajari dan mendidik anaknya. Kemudian bertemulah ayahnya dengan seorang syaikh yang belakangan dikenal dengan Syaikh Marzuki. Dari cara dan metode yang digunakan dalam mengajar, Tuan Guru KH. Abdul Majid merasa cocok jika syaikh tersebut menjadi guru bagi anaknya.

Syaikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ia sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Arab. Kebanyakan muridnya berasal dari Indonesia. Ada yang berasal dari Palembang, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Lombok.

Salah seorang murid Syaikh Marzuki yang berasal dari Lombok bernama H. Abdul Kadir dari desa Mamben Lombok Timur. H. Abdul Kadir sudah setahun lebih belajar di Makkah pada waktu itu.

Namun pada akhirnya Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid merasakan ketidakcocokan terhadap Syaikh Marzuki karena dirasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti dalam menuntut ilmu. Karena pada saat itu sang guru mengajarkan kitab gundul yang tidak memiliki baris sedangkan beliau masih murid baru dan dapat dikatakan masih awam dalam mempelajari kitab-kitab gundul yang tidak memiliki baris tersebut, sehigga beliau berfikiran ingin memulai pelajarannya dari awal agar mampu membaca dan memahami makna yang terkandung dalam kitab gundul tersebut. Setelah ayahnya pulang ke Lombok beliau langsung berhenti belajar mengaji pada Syaikh Marzuki.


Pada hari pertama beliau masuk di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah beliau bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang hubungannya paling dekat.Di sana juga ia bertemu as-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajar syair pada as-Sayyid Amin al-Kutbi, yang ternyata juga sebagai salah seorang guru di Madrasah ash-Shaulatiyah.

Sudah menjadi tradisi di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah bahwa setiap murid baru yang masuk harus mengikuti tes untuk menentukan kelas yang tepat dan cocok untuk murid baru tersebut. Demikian juga halnya dengan Muhammad Zainuddin, beliau juga diuji terlebih dahulu. Beliau diuji langsung oleh Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.


Akhirnya Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath menentukan ia masuk di kelas III. Padahal beliau belum terlalu menguasai ilmu nahwu dan sharaf yang diajarkan di kelas II. Mendengar keputusan tersebut, kemudian beliau meminta untuk diperkenankan masuk di kelas II, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran nahwu dan sharaf. Walaupun pada awalnya Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath bersikeras dengan keputusannya, namun argumentasi yang dikemukakan oleh Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir kembali. Kemudian Syaikh Hasan pun mengabulkan permohonannya, dan resmilah beliau diterima di kelas II.

Di Madrasah ash-Shaulatiyah ini, Muhammad Zainuddin mulai tekun belajar. Ia ingin membuktikan kemampuannya menguasai ilmu dengan baik. Di malam dan sore hari beliau belajar kepada beberapa guru yang lain.Di rumah juga beliau manghabiskan waktunya untuk belajar. Salah satu bentuk ketekunannya dalam belajar adalah besarnya porsi waktu yang disediakan untuk membaca kitab-kitab mulai dari setelah shalat Tahajjud sampai waktu shalat Shubuh tiba.

Pernah suatu ketika beliau tertidur pada saat membaca kitab, padahal di hadapannya terdapat sebuah lampu minyak sebagai alat penerang beliau dalam membaca. Tanpa beliau sadari sorbannya terlalap api dari lampu minyak tersebut dan terbakar. Mencium bau benda terbakar, ibunya pun terbangun, sementra beliau masih tertidur dengan lelapnya. Kemudian ibunya pun berteriak membangunkannya. Beliaupun terkejut dan terbangun.

Kebiasaan beliau membaca dan belajar dalam waktu yang cukup lama menyebabkan mata beliau mengalami gangguan. Meskipun demikian beliau masih tetap mampu mempertahankan kebiasaan membaca dan belajarnya tersebut sampai waktu yang cukup lama.Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya mengakui bahwa beliau tergolong murid yang cerdas. Syaikh Salim Rahmatullah sebagai kepala Madrasah ash-Shaulatiyah selalu mempercayakan beliau untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah Saudi yang sering kali datang ke madrasah itu. Penilik madrasah itu menganut faham Wahabi. Dan beliaulah satu-satunya murid Madrasah ash-Shaulatiyah yang dianggap menguasai faham Wahabi.

Pertanyaan penilik itu biasanya menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada anbiya’ dan auliya’, bernadzar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan beliau selalu berhasil menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan.

Prestasi akademiknya sangat membanggakan, ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Disamping itu, dengan kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun. Padahal waktu belajar normal adalah 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik ke kelas VII,VIII dan IX.Sahabat sekelas Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin bernama Syaikh Zakaria Abdullah Bila, mengakui kejeniusannya dan mengatakan: “Syaikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kejeniusannya yang tinggi dan luar biasa dan saya sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, dan kawan sekelasku dan saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi pada waktu saya bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah.”

Predikat istimewa ini disertai pula dengan perlakuan istimewa dari Madrasah ash-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis langsung oleh ahli khat terkenal di Makkah, yaitu al-Khathath asy-Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari direktur Madrasah ash-Shaulatiyah. Prestasi istimewa itu memerlukan pengorbanan, ibu yang selalu mendampingi selama belajar di Madrasah ash-Shaulatiyah berpulang ke rahmatullah di Mekah.Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan studinya di Madrasah ash-Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzul Hijjah tahun 1353 H dengan predikat “mumtaz” (Summa Cumlaude).

Setelah tamat dari Madrasah ash-Shaulatiyah, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin tidak langsung pulang ke Lombok, tetapi bermukim lagi di Makkah selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu dimanfaatkan untuk belajar antara lain belajar ilmu fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani. Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh selama di Tanah Suci Makkah adalah 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Ini berarti selama di Mekah sempat mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.

Para guru yang mengajarkan al-Quran dan kitab Melayu di Lombok diantaranya adalah:
Tuan Guru KH. Abdul Majid
Tuan Guru KH. Syarafuddin Pancor Lombok Timur
Tuan Guru KH. Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur.
Adapun para guru beliau di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah adalah:
Asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath
Asy-Syaikh Umar Bajunaid asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Muhammad Said al-Yamani asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Ali al-Maliki
Asy-Syaikh Marzuqi al-Palimbani
Asy-Syaikh Abubakar al-Palimbani
Asy-Syaikh Hasan Jambi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Mandili asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Mukhtar Betawi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Umar Hamdan al-Mihrasi al-Maliki
Asy-Syaikh Abdussattar ash-Shiddiqi Abdul Wahab al-Kutbi al-Maliki;
Al-‘Allamah al-Kabir al-Syeikh
Asy-Syaikh Abdul Qadir asy-Syibli al-Hanafi
Asy-Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi
As-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Khalifah al-Maliki
Asy-Syaikh Jamal al-Maliki
Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Kalantani asy-Syafi’i
 Asy-Syaikh Mukhtar al-Makhdumi al-Hanafi
Asy-Syaikh Salim Cianjur asy-Syafi’i
As-Syayid Ahmad Dahlan Shadaqi asy-Syafi’i
Asy-Syaikh Salim Rahmatullah al-Maliki
Asy-Syaikh Abdul Gani al-Maliki
As-Syayid Muhammad Arabi at-Tubani al-Jazairi al-Maliki
Asy-Syaikh Umar al-Faruqi al-Maliki
Asy-Syaikh Abdullah al-Farisi
Asy-Syaikh Malla Musa.


Jika diklasifikasikan guru-gurunya berdasarkan latar belakang madzhab yang berbeda, maka akan terlihat kategorisasi madzhab sebagai berikut: 11 orang bermadzhab Syafi’i, 6 orang bermadzhab Hanafi dan 11 orang bermadzhab Maliki.

Berdasarkan kategorisasi madzhab di atas terlihat jelas bahwa semua guru-guru beliau masih berada dalam satu landasan teologi yang sama, yakni faham Ahlussunnah wal Jama’ah. Dengan kata lain, bahwa tidak ada seorang pun gurunya yang menganut faham teologi yang berbeda, seperti Mu’tazilah, Syi’ah ataupun Wahabi.


Share:

Baru terungkap Karamah TGKH M Zainuddin yang di Riwayatkan kH Mas'hum Ahmad kyayi besar NU ( Nahdlatul ulama ) | cinta nw

Karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke Lombok.

Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.


“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti. Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M, itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.


Kewafatan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Akhir tahun 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa 21 Oktober 1997 M/18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah, sang ulama kharismatis, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur.

Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang Islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik umat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.

Wallahua'lam


Dan masih banyak karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang lainnya yang belum kami tulis di sini.

Share:

Pernikahan TGKH M Zainuddin abdul majid | cinta NW

Karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke Lombok.

Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.


“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti. Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M, itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.


Kewafatan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Akhir tahun 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa 21 Oktober 1997 M/18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah, sang ulama kharismatis, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur.

Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang Islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik umat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.

Wallahua'lam


Dan masih banyak karamah Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang lainnya yang belum kami tulis di sini.

Share:

Otobiografi Ulama Besar Lombok | cinta Nw

Sebuah otobiografi seorang ulama besar Lombok, pejuang kemerdekaan Indonesia dan pendiri Nahdlatul Wathan.
Kelahiran Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddi Abdul Majid dilahirkan di Kampung Bermi Pancor Lombok Timur pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 1315 H. Nama kecil beliau adalah Muhammad Saqqaf dan berganti nama menjadi Muhammad Zainuddin setelah menunaikan ibadah haji. Yang mengganti nama beliau adalah ayahandanya sendiri, yaitu Tuan Guru KH. Abdul Majid.  Nama itu diambil dari mana seorang ulama besar, guru di Masjidil Haram, yang akhlak dan kepribadiannya sangat menarik hati sang ayah, yaitu Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak.

Penamaan Muhammad Saggaf memiliki cerita yang cukup unik. Tiga hari menjelang kelahirannya, ayahnya didatangi oleh dua orang wali yang berasal dari Hadhramaut dan Maghrabi. Kedua wali tersebut mempunyai nama yang sama, yakni Saqqaf. Keduanya berpesan kepada Tuan Guru KH. Abdul Majid, jika mempunyai anak agar diberi nama Saqqaf seperti nama mereka berdua.


Kata Saqqaf dalam bahasa Arab berarti membuat atap atau mengatapi. Kata ini kemudian diIndonesiakan menjaddi Saggaf dan dikarenakan berada di daerah Lombok Nusa Tenggar Barat yang masih kental dengan budaya daerahnya sehingga nama tersebut didialekkan ke dalam bahasa daerah yang biasa disebut bahasa sasak menjadi Segep, dan pada masa kecilnya pun beliau kerap dipanggil dengan panggilan Gep.

Baca juga : PERNIKAHAN TGKH M ZAINUDDIN YANG SANGAT SEDERHANA

Disamping  itu, terdapat keunikan lain seputar kelahirannya, yaitu adanya cerita gembira yang dibawa oleh seorang wali, bernama Syaikh Ahmad Rifa’i yang juga berasal dari Maghrabi. Ia menemui Tuan Guru KH. Abdul Majid menjelang kelahiran putranya. Syaikh Ahmad Rifa’i berkata kepada Tuan Guru KH. Abdul Majid: “Akan segera lahir dari istrimu seorang anak laki-laki yang akan menjadi ulama besar.”

Dengan adanya keunikan-keunikan yang terjadi menjelang kelahiran putranya yang kemudian dinamakan Muhammad Saggaf, Tuan Guru KH. Abdul Majid dan istrinya merasa senang dan gembira karena kelahiran puteranya disambut dan dinantikan oleh para ulama dan para wali-wali Allah.


 Ayah Ibu Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Beliau adalah anak bungsu yang lahir dari perkawinan antara Tuan Guru KH. Abdul Majid dengan seorang wanita shalihah yang berasal dari desa Kelayu Lombok Timur, yang bernama Inaq Syam dan lebih dikenal dengan nama Hajjah Halimatus Sa’diyah.

Beliau memiliki saudara kandung sebanyak lima orang, diantaranya yaitu Siti Syarbini, Siti Chilah, Hajjah Saudah, Haji Muhammad Shabur dan Hajjah Masyithah.

Sejak kecil beliau terkenal sangat jujur dan cerdas. Kerena itu, tidak mengherankan kalau ayah bundanya memberikan perhatian khusus dan menumpahkan kecintaan serta kasih sayang demikian besar kepada beliau.

Tentang silsilah keturunan beliau yang lengkap tidak dapat dikemukakan secara utuh dikarenakan dokumen dan catatan silsilah keturunan beliau ikut terbakar ketika rumah orangtua  beliau mengalami kebakaran. Namun yang jelas beliau terlahir dari keturunan keluarga yang terpandang dan garis keturunan terpandang pula yaitu keturunan Selaparang. Selaparang adalah nama Kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Pulau Lombok.





Share:

Sejarah Nama - Nama Gelar Panggilan Suku Sasak LOMBOK | Cinta NTB

Asal usul nama dan gelar di lombok - Bagi orang sasak, Amaq Dan inaq yang berarti ayah dan ibu dalam bahasa indonesianya.

memiliki sebuah sejarah dan nilai religius kenapa sampai kata Amaq dan inaq bisa menjadi sebuah sebutan dan nama panggilan dalam bahasa sasak untuk ibu dan ayah,berikut penjelasannya.


Asal kata Inaq

Saya pernah berdiskusi dengan Bapak Sumenggep mengenai hierarki kebangsaan bangsa Sasak dan beliau mengutip penjelasan Lalu Sahak seorang budayawan Sasak (Ayahanda Lalu Satriawan) di Selong. Beliau mengatakan bahwa hierarki kebangsaan Sasak yang tertinggi adalah Inaq dan Amaq. Pernyataan itu memprovokasi saya untuk mencari lebih jauh dan lebih jauh mengenai dari mana Bangsa Sasak mewarisi kedua sebutan istimewa itu. Dalam kisah dan dongeng dongeng Sasak yang paling kuno, semuanya bercerita tentang keberadaan Inaq sekenoq dan Amaq

sekeneq (Inaq dan Amaq fulan). Tidak ada kisah yang menyebut nama nama yang kemudian kita ketahui seperti Raden,Lalu dan Baiq.

Sebutan Inaq ternyata terkait langsung dengan sejarah yang sangat kuno yaitu dari bangsa Sumeria yang hidup antara 3.500 – 2.500 SM. Bangsa ini mewariskan kebudayaannya kepada bangsa bangsa yang sekarang hidup di Timur Tengah. Bangsa Sumeria adalah bangsa yang sangat maju budaya dan bahasanya. Mereka memiliki seoarang Dewi yang disebut Inanna. Dewi kesuburan ini adalah Dewi yang banyak disembah di zaman purba dengan nama nama berlainan sperti Ishtar, Asshtoreth, Isis, Aphrodit dan Venus. Di Nusantara Dewi ini disebut dewi Sri.

Bagaimana bangsa Sasak dapat mengambil nama Dewi Sumeria itu tentu sebuah perjalanan sangat panjang. Bangsa Nusantara diketahui berasal dari anak benua India dan Yunan di India belakang sekarang wilayah China. Melalui Bangsa Greek dan Romawi kemudian Persia dan India lagi mereka menyerap atau mewarisi dan membuat akulturasi dari seluruh bangsa di dunia.


Asal kata Amaq

Sebutan ini jauh lebih gampang sejarahnya dibanding Inaq karena asal katanya mudah ditebak yaitu dari Bahasa Sanskerta, Kama yang berarti sperma. Dari kata kama ini lahirlah berbagai kata turunan seperti Amaq, Amiq kemudian jadi Mamiq. Bandingkan dengan kata mama (ibu) yang artinya susu kemudian menjadi mami. Dan jangan lupa orang Sasak suka mengatakan O Gamaq amaq… yang artinya aduhai bapak!, Atau alangkah…, betapa…dst.

Kedua sebutan Inaq dan Amaq adalah warisan paling kuno yang dimiliki Bangsa Sasak maka itulah sebabnya oleh Lalu Sahak dikatakan sebagai hierarki tertinggi. Nama itu adalah simbol dewi dan dewa yang dihormati bangsa Sasak kuno ketika mereka masih menyebah Roh.


Asal Gelar Tuan dan Raden

Di zaman feudal sejak sebelum berdirinya kerajaan Hindu di Nusantara, masyarakat hidup berkelompok dengan pemimpin mereka yang mengatur sebagai tuan tanah. Dalam bahasa Sanskerta Rahadian berarti tuan. Kata Tuan belakangan muncul karena berasal dari bahasa Nusantara dengan berbagai varian bunyi seperti Tun, Teuku, Tengku dan Tuang. Orang Sasak sangat aneh dalam mengambil sebutan itu. Mereka dapat dengan mudah menepelkan Tuan

sebagai maksud seseorang telah menunaikan ibadah haji. Maksudnya adalah karena mereka ingin disejajarkan dengan Tuan tanah atau Rahadian yang dihormati itu. Sudah dapat hadiah sebutan Haji di Mekkah khusus bagi jamaah yang datang dari negeri yang jauh sekali. Di Lombok pun masih diberi gelar Cuma Cuma sebagi Tuan hatta mereka tidak punya tanah.


Asal Gelar Lalu

Sejarah sebutan ini agak suram tetapi coba kita perhatikan, bahwa rahadian itu berasal dari tanah Jawa tadinya hanya sekedar sebutan tetapi oknum tertentu mencantelkan sebutan itu tanpa malu malu sebagai tambahan pada nama mereka. Setelah berakhirnya kerajaan kerajaan kecil Lombok yang kental akan pengaruh Jawa dan terutama Bali,maka orang Sasak mulai membuat sebutan sendiri. Tentu tidak dapat menggunakan Tuan karena mereka bukan tuan tanah tetapi sebagai keturunan orang terhormat yang sudah hilang kesaktiannya perlu menggelarkan sebutan tertentu.

Dapat diapastikan ide itu datang dari keturunan para rahadian itu. Ingat Rahadian belum tentu raja. Maka proses kreatif mereka melahirkan sebutan Lalu yang mencerminkan sebutan La dari Ibu karena sebutan perempuan adalah La atau Le dan Lu dari sebutan Ayah karena laki laki disebut Lu atau kemudian Loq. Demikianlah sekarang kita mendapati banyak orang Sasak menggunakan nama Lalu.


Asal Gelar Baiq

Sebutan untuk seorang perempuan yang mengalir darah keturunan ditubuhnya tidak diambil dari bahasa Sanskerta umpamanya Empu atau dari bahasa melayu Puan. Karena orang Sasak juga memiliki warisan dari bagian lain Asia yaitu Persia (Asia Barat). Di Negara Asia barat dan tengah ada satu sebutan yang popular yaitu Bay atau Beg (Bek) artinya Tuan. Dapat dilihat pada nama orang India dan Pakistan dan Uzbekistan serta Asia Tengah Lain, menggunakan Bay atau Beg diakhir nama mereka.






Share:
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG PECINTA NAHDATUL WATHAN/ POKOKNYA NW / POKOK NW IMAN DAN TAQWA / cintanw.blogspot.com
SEPUTAR SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSA TENGGARA BARAT DAN NUSANTARA INDONESIA

HIMPUNAN SEJARAH

Popular Posts